Senin , 27 Mei 2019
Home / Berita utama / Sultan: Kita Mengutuk dalam Kesedihan Mendalam

Sultan: Kita Mengutuk dalam Kesedihan Mendalam


BENGKULU
–  Kabar mengejutkan datang dari negara jiran Selandia Baru. Seorang teroris warga Australia berbuat keji secara brutal membunuh puluhan muslim saat sedang mengerjakan salat Jum’at. Dunia marah, mengutuk dan berduka atas korban.

Innalillahi wa inna ilahi rojiun, atas apa yang terjadi di Selandia Baru kita mengutuk dan dalam kesedihan yang mendalam atas korban yang berjatuhan tentu saja tidak ada tempat untuk orang seperti ini di dunia ini,” terang Sultan ketika dihubungi media,  Jum’at (15/3) di sela acara kunjungan silaturahmi jaringan sahabat Sultan di muko-muko.

Menurut  Sultan perilaku abnormal dengan tujuan menebar rasa ketakutan dapat terjadi apa siapa saja dengan menyasar golongan atau agama apapun. “Perilaku yang diluar nalar ini tidak identik dengan agama apapun dan target nya pun random dan setiap negara seharusnya punya kebijakan untuk mengantisipasi ini unyuk melindungi seluruh warga negarannya ” terang senator yang pernah menjabat ketua hubungan antar lembaga di DPD RI.

Kabar aksi tidak berperikemanusiaan itu cepat menyebar karena tersangka utama  mengunggah aksinya secara langsung di media sosial. Sultan menyampaikan rasa duka mendalam atas korban yang berjatuhan atas aksi tersebut dan berharap pihak otoritas Selandia Baru dapat memberikan hukuman setimpal kepada pelaku.  “Kita dapat merasakan duka yang mendalam bagi keluarga korban dan do’a terbaik semoga Allah Subhana wata alla memberikan pahala jihad bagi korban, amiin” tambahnya.

Setidaknya sebanyak 40 orang tewas dalam aksi penembakan brutal di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru. Dubes RI untuk Selandia Baru di Wellington, Tantowi Yahya, menyatakan ada 2 WNI turut menjadi korban luka dalam serangan itu.  “Informasi terbaru, ada 2 WNI yang menjadi korban,” kata Tantowi Yahya. Dua WNI tersebut terdiri dari ayah dan anak. Mengenai identitas, Tantowi belum mau mengungkapnya.  “Seorang bapak dan anaknya, yang salat di masjid tersebut. (Identitas) belum bisa kami sampaikan,” tutur Tantowi.

Wakil Presiden Jusuf Kalla JK menyebut telah memerintahkan KBRI Wellington untuk mencari kabar tiga warga negara Indonesia (WNI) yang hingga saat ini belum bisa dikontak. Tiga WNI tersebut berada di dalam masjid saat penembakan terjadi. Dia pun mengimbau warga Indonesia lainnya untuk berhati-hati. “Ya berhati-hati lah. Ya hati-hati karena itu negara yang selalu aman, selalu dikatakan aman. Dan justru dikatakan sangat Islami karena hubungan antara manusia paling baik,” jelas JK.

Salah seorang pelaku penembakan brutal di sebuah masjid di Christchurch, Selandia Baru sempat menayangkan aksi brutalnya via layanan live streaming di internet. Video live streaming berdurasi 17 menit itu telah dihapus dari internet oleh otoritas terkait. Seperti dilansir media lokal Selandia Baru, The New Zealand Herald, Jumat (15/3/2019), dalam live streaming itu, pelaku menyebut namanya sebagai Brenton Tarrant. Nama itu mengarah pada seorang pria kulit putih berusia 28 tahun kelahiran Australia. (rls/tim) 

Berita Lainnya

Lantaran Coba Perkosa Ibu Kandung, Wartawan Diamankan

KOTA BINTUHAN – Wartawan (30) warga Desa Talang Padang Kecamatan Kinal diamankan anggota Polsek Kaur ...

error: Content is protected !!