Selasa , 26 Maret 2019
Home / Daerah / Kaur / Musim Panen Padi, Pedagang Beras Keluhkan Sepi Pembeli

Musim Panen Padi, Pedagang Beras Keluhkan Sepi Pembeli

SEPI : Tampak pedang beras  di Pasar Impres Bintuhan sepi pembeli. (foto : albertus/rb)

KOTA BINTUHAN – Musim panen padi, baik itu sawah tadah hujan mau pun irigasi berakibat pada melimpahnya padi dan beras di Kabupaten Kaur.  Ini  berdampak pada penjualan beras di berbagai pasar di Kaur. Salah pedagang beras mulai mengeluh karena sepi pembeli. Tidak hanya itu saja harga beras saat ini turun dari harga biasanya, kalau biasanya satu kulak Rp 34 ribu saat ini menjadi Rp 33 ribu.

“Kalau saat ini sepi mas penjualan beras, apa lagi beras kita dari Lampung. Banyak petani panen dan jual sendiri ke warga jadi pasar sepi. Kalau pun ada tidak seperti biasanya, karena memang lagi musim panen dan setiap tahunnya memang seperti ini. Apa lagi banyak petani yang saat panen ini nyimpan dan jual beras,” kata Anton salah satu pedagang beras di Pasar Impres Bintuhan.

Dari pantauan RB, saat ini hampir di setiap kecamatan banyak petani yang sedang panen padi. Bahkan sebagian sudah mulai menjemur padi untuk dijadikan beras dan ada juga yang disimpan untuk kebutuhan mereka nanti. Apa lagi khusus petani sawah tadah hujan yang panen setahun sekali banyak yang menyimpan padi untuk stok makan mereka selama satu tahun.

“Kalau musim panen kita tidak beli beras dan tidak juga jual beras, padi yang ada kita simpan pak. Nanti kalau perlu beras tinggal kita bawa ke tempat penggilingan padi seperlunya saja. Kalau pun dijual itu pasti untuk keperluan anak sekolah nantinya sebagian banyak kita simpan untuk maka. Apa lagi di Tanjung Kemuning ini banyak sawah tadah hujan bukan irigasi,” kata Pitman warga Desa Selika kepada RB.

Tidak hanya harga beras yang turun saat ini, petani cabai lokal juga mengeluhkan murahnya harga cabai saat ini. Sudah hampir dua bulan ini harga cabai di Kaur tidak pernah tembus di tas Rp 20 ribu per kilonya. Bahkan beberapa minggu yang lalu harga cabai di Kaur turun hingga Rp 10 ribu per kilonya.

“Saat ini harga sudah mulai naik beberapa ribu, namun tetap kita tidak puas. Apa lagi saat ini di pasaran harga cabai Rp 16 ribu per kilonya, sementara di tingkat petani bisa sampai Rp 11 ribu per kilonya. Kendati murah, namun pembeli juga tidak terlalu banyak lagi saat ini. Karena sudah banyak yang stok cabai giling pasca harga Rp 10 ribu yang lalu,” kata Rendi salah satu pedagang cabai di kepada RB. (cik)

Berita Lainnya

Pendaftar Akpol Masih Minim

KOTA BINTUHAN – Pendaftar Akademi Polisi (Akpol) dari Kabupaten Kaur masih minim. Saat ini baru ...

error: Content is protected !!