Selasa , 25 Juni 2019
Home / Borgol / Uang Ngalir ke Oknum LSM

Uang Ngalir ke Oknum LSM

SAKSI: Para saksi saat memberikan keterangan kepada majelis hakim dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Bengkulu, Rabu (27/3). (foto: hasrul/rb)

BENGKULU – Majelis hakim Pengadilan Tipikor Bengkulu yang diketuai Fitrizal Yanto, SH,MH kembali melanjutkan sidang kedua atas dugaan perkara korupsi pemotongan dana yang dikelola Dinas Kesehatan (Dinkes) Bengkulu Tengah (Benteng), Rabu (27/3). Sidang ini mendudukkan mantan Bendahara Dinkes, Fintor Gunanda sebagai terdakwa.

Dalam sidang dengan agenda pembuktian menghadirkan para saksi yakni mantan Kepala Dinas (Kadinkes) Benteng Elyandes Kori, mantan Sekretaris sekaligus Plt Kadinkes Mulya Wardana, Kabid Kesmas Gadis Nosita, dan Kabid B2P Bidang Pencegahan Penyakit Burhanudin. Dalam kesaksiannya, Fitrizal Yanto mencecar saksi Elyandes dengan sejumlah pertanyaan. Termasuk mengenai aliran uang hasil pemotongan dengan besaran 5-10 persen.

Mulanya, Elyandes tidak mau membeberkan secara rinci kemana aliran dana. Namun akhirnya dia menjelaskan bahwa ada uang yang dialirkan ke oknum wartawan dan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang ada di Benteng. “Diberikan untuk silaturahmi dengan wartawan dan LSM. Dikasih Rp 100 ribu,” jawab Elyandes di muka persidangan tanpa menyebut oknum wartawan atau LSM mana yang dimaksud.

Fitrizal Yanto juga menggali apa dasar pemotongan yang mereka lakukan tersebut. Elyandes mengaku, pemotongan yang dilakukan atas dasar kesepakatan yang dalam rapat bersama dengan menghadirkan sekretaris, para kabid dan kasi di lingkungan Dinkes Benteng. Dalam kesepakatan, pemotongan dengan besaran 5-10 persen digunakan untuk dana taktis atau saving jika suatu waktu ada keperluan mendadak. “Jadi atas dasar kesepakatan bersama, untuk dana saving. Jadi jika saat saya butuh ada dana taktis,” bebernya.

Sementara itu, penasihat hukum terdakwa, Nediyanto Ramadhan, SH, MH juga mempertanyakan kepada saksi, Mulya Wardana yang saat kejadian menjabat sebagai Plt Kadinkes Benteng. Mulya yang saat ini sudah ditetapkan penyidik Polda Bengkulu sebagai tersangka ini mengaku tidak mengetahui adanya kesepakatan pemotongan tersebut.  “Saya tahunya ada pemotongan itu setelah ada OTT itu pak,” kata Mulya.

Mulya juga mengaku tidak pernah memerintahkan ataupun menyuruh Fintor untuk melakukan pemotongan. Kendati demikian, Mulya mengaku sehari sebelum pencairan uang, bendahara melapor kepada dirinya ada pencairan. Namun saat itu tidak pernah ada perintah atau menyuruh melakukan pemotongan. “Sehari sebelum pencairan memang ada bendahara nelpon besok akan pencairan,” jelasnya.

Majelis hakim juga mempertanyakan mengapa pencairan harus dilakukan di gudang farmasi bukan di kantor Dinkes Benteng. Mulya Wardana beralasan itu karena menyangkut keamanan. Dia mengaku staf mereka sebelumnya dibuntuti atau diiringi oleh orang tak dikenal. Maka dari itu, akhirnya melakukan proses pencairan dari bendahara Dinkes ke pemegang kegiatan dilakukan di gudang farmasi.

Dalam keteranganya, Mulya mengaku dirinya pernah meminjam uang kepada bendahara Fintor. Namun pinjaman itu sifatnya pribadi, dia mengaku tak mengetahui dana itu berasal dari hasil pemotongan. “Uangnya sudah saya kembalikan. Saya minjamnya dua kali, pertama Rp 3 juta dan kedua Rp 500 ribu, tapi saya nggak tahu kalau itu uang hasil pemotongan,” ungkapnya.

Hanya saja, saat majelis hakim langsung mengklarifikasi kepada Fintor, ternyata uang itu belum pernah dikembalikan. Mulya juga tidak ada bukti atas pengembalian uang tersebut. “Itu saya minjamnya pribadi, untuk kuliah anak,” kata Mulya.

Sebelumnya, Fintor ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) penyidik Polda Bengkulu lantaran melakukan pemotongan dana dengan besaran 5-10 persen atas pendistribusian dana yang dikelola Dinkes Benteng. Dana tersebut berupa dana kegiatan, dana bantuan operasional kesehatan (BOK), dana untuk puskesmas dan lainnya.(zie)

Berita Lainnya

Polisi Sita 87 Sertifikat Tanah Warga

SELUMA – Penyidik Unit Tipikor Satreskrim Polres Seluma menyita  sertifikat tanah dari program Nasional Agraria ...

error: Content is protected !!