Kamis , 27 Juni 2019
Home / Metropolis / Polemik Terminal Sungai Hitam Belum Ada Solusi

Polemik Terminal Sungai Hitam Belum Ada Solusi

HEARING: Para eks pedagang Terminal Sungai Hitam saat hearing yang digelar di DPRD Kota Bengkulu, Senin (1/4). (foto: wahyu/rb)

BENGKULU – Polemik para eks pedagang Terminal Sungai Hitam yang digusur Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu 7 November 2018 lalu, terus menjadi bola panas. Bahkan dalam hearing yang kembali digelar DPRD Kota, Senin (1/4), tak kunjung ada titik temu antara pedagang dengan Pemerintah Kota (Pemkot).

Dalam hearing yang dikomandoi langsung Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Kota, Suimi Fales beserta gabungan komisi DPRD Kota lainnya, pedagang mencurahkan kekecewaannya atas penggusuran oleh Pemkot Bengkulu pada 7 November 2018 tersebut. Saat itu total ada 76 kios yang dibongkar.

Salah seorang pedagang yang mengaku bernama Iin, terlihat menangis saat hearing tersebut. Sebab akibat dari penggusuran itu, suaminya meninggal dunia. Namun hingga saat ini belum ada solusi yang diberikan Pemerintah Kota terkait ganti rugi bangunan milik pedagang yang dibongkar paksa beberapa waktu lalu.

“Pascabangunan kami dibongkar itu, suami saya shock, akibatnya dia meninggal. Kami tidak tahu lagi harus mengadu kemana persoalan ini,” ucap Iin yang merupakan istri Kholiq, berlinang air mata.

Sementara itu Fery Okta Trinanda, SH, selaku Kuasa Hukum yang mendampingi eks pedagang Terminal Sungai Hitam mengemukakan, seharusnya Pemerintah Kota (Pemkot) harus bertanggung jawab atas pembongkaran 76 kios tersebut. Kios tersebut dibangun oleh para pedagang sendiri. “Saat akan dibongkar pedagang sudah protes tapi tetap dilaksanakan juga. Oleh karena itu para pedagang meminta tanggung jawab atas kerugian tersebut,” kata Fery.

Dikatakan Fery, bila hal itu tidak ditindaklanjuti secepatnya, maka pihaknya akan menggelar demo ke Pemkot dan DPRD Kota Bengkulu. Bahkan tidak menutup kemungkinan juga akan tempuh jalur hukum. “Selain itu saya juga akan lakukan gugatan perdata. Sebab kelalaian dari Pemkot harus ada ganti rugi,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Kepala UPTD Terminal Sungai Hitam, Agus Syahruzah menyampaikan, bila meninggalnya suami Iin tersebut murni karena Kecelakaan Lalu Lintas (Lakalantas). Ia juga mengungkapkan bila pembongkaran dilaksanakan karena para pedagang melakukan tindakan yang bertentangan dengan norma-norma. “Seperti misalnya mereka ada yang jual tuak, Miras, dan lainnya. Hal itu meresahkan masyarakat sekitar. Para pedagang itu tidak menjalankan sesuai dengan ketentuan yang ada,” jelasnya.

Ditambahkan Agus, selain itu banyak lapak yang disewakan kepada orang lain yang tidak sesuai ketentuan. “Bahkan mereka rata-rata tidak memiliki izin. Mereka menggunakan kios sebagai tempat bermalam. Padahal tidak dibenarkan untuk menginap,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Bengkulu, Mitrul Ajemi meminta agar kuasa hukum cermat dalam membela pedagang tersebut. “Sebab jangan ada dusta di antara kita. Teguran itu memang sudah sering kita sampaikan tapi tidak digubris. Selain itu para pedagang ini berjualan melanggar norma yang ada menjual minuman dan segala macamnya. Maka dari itu upaya tegas kita melakukan penertiban,” beber Mitrul.

Ketua BK DPRD Kota Bengkulu, Suimi Fales meminta agar permasalahan ini bisa cepat selesai. Kemudian harus ada solusi atas kejadian tersebut secepatnya. “Yang jelas masalah ini harus ada titik temu antara pedagang dan Pemerintah Kota.  Jangan menimbulkan polemik berkepanjangan,” ujarnya.

Suimi juga berharap permasalahan tersebut tidak masuk dalam ranah hukum. Meskipun para pedagang ini juga diduga melakukan kesalahan. “Kita akan lanjutkan pertemuan lagi. Karena tadi (kemarin, red) Kepala Dinas Perhubungan tidak hadir. Jadi kita beri waktu dua minggu untuk menyelesaikan persoalan ini harus ada titik temunya,” pungkas Suimi. (new)

Berita Lainnya

Gelombang Tinggi Hantam Laut Bengkulu

BENGKULU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Pulau Baai Bengkulu kembali merilis ...

error: Content is protected !!