Kamis , 27 Juni 2019
Home / Metropolis / Keluarga Miskin, Tak Mampu Berobat

Keluarga Miskin, Tak Mampu Berobat

Terbaring: Wahyu Agusti (15) terbaring lemah di tempat tidur akibat menderita penyakit skabies. (foto: bayu/rb)

Wahyu Agusti (15) terpaksa harus berhenti menimba ilmu di SMPN 14 Kota Bengkulu delapan bulan terakhir. Lantaran mengidap gatal-gatal yang tak terhingga di sekujur tubuhnya. Bahkan anehnya seluruh kuku jari kaki dan tangannya copot. Wahyu juga terbaring lemas di kasur karena persendian tulangnya lemas. Dia tidak mampu beraktivitas. Berikut Laporannya.

 BAYU ADI PUTRA WIJAYA, Kota Bengkulu

Kondisi tubuh warga Jalan Belimbing III RT 24 Kelurahan Panorama tersebut terlihat sangat kurus. Lantaran kehilangan nafsu makan akibat penyakit dideritanya. Dia hanya terbaring lemas di kasur yang berada di kamar berukuran 3×3 meter. Orangtuanya Edison (43) dan Dismi (38) sudah pernah membawa Wahyu berobat ke Rumah Sakit Kota Bengkulu, 2 minggu yang lalu. Menurut dokter penyakit yang diidap oleh putra ke duanya tersebut adalah Scabies. Wahyu harus menjalani rawat inap selama dua hari di rumah sakit tersebut.

Lamanya, Wahyu mendapatkan penanganan medis, karena kedua orangtuanya tidak mampu membiayainya berobat. Lantaran mereka hanya berprofesi sebagai pemulung. Wahyu dan keluarga tidak masuk dalam program jaminan kesehatan, baik itu Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) maupun Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan.

“Jangankan untuk pergi ke sekolah, untuk berjalan kedepan saja Wahyu harus dituntun,” terang Edison, setelah mempersilakan RB masuk ke kontrakannya.

Ekonomi keluarga yang pas-pasan, memaksa wahyu hanya bisa menjalani pengobatan seadanya di rumah. Tubuh Wahyu hanya diasapi dengan sejenis rempah-rempah yang dibakar. Ia hanya ingin anaknya cepat sembuh dan bisa beraktivitas seperti anak lainnya dan kembali ke sekolah. “Saat ini wahyu terlihat lemas sejak sakit, untuk berkomunikasi terutama dengan orang lain terlihat kurang semangat,” ucapnya lirih.

Salah seorang tetangga, Rini (39) menceritakan, sebelumnya mereka tinggal tidak jauh dari tempat yang sekarang di bedengan papan bersebelahan dengan siring besar yang dipenuhi sampah. Kontrakan tersebut tidak memiliki water closed (WC), sehingga kesannya kumuh. Berkat pertolongan dermawan, mereka dipindah ke kontrakan lebih layak yang dihuni sekarang. “Mereka tinggal disini baru 10 hari, tempat yang lama dengan yang sekarang berbeda jauh kondisinya,” terangnya. (cw2)

Berita Lainnya

Gelombang Tinggi Hantam Laut Bengkulu

BENGKULU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Pulau Baai Bengkulu kembali merilis ...

error: Content is protected !!