Rabu , 24 Juli 2019
Home / Breaking News / Waspada Serangan Balasan

Waspada Serangan Balasan

BENGKULU – Konflik antara nelayan trawl dari Pulau Baai dengan nelayan tradisional kembali pecah di perairan Bengkulu. Berawal Jumat (5/4) pukul 08.00 WIB kapal trawl milik H.Asek yang dinahkodai Cundu yang sedang mencari ikan di perairan Ulu Palik Kabupaten Bengkulu Utara diserang oleh nelayan tradisional.

Nelayan tradisional yang berada dalam tiga unit kapal langsung menyerang kapal trawl milik H.Asek dengan cara melemparinya menggunakan batu dan ditembak menggunakan senapan angin. Enam nelayan trawl yang berada di kapal milik H.Asek terluka, 3 diantaranya luka tembak.(lihat grafis,red).

Beruntung kapal tersebut tidak sampai dibakar dan para nelayan di dalamnya berhasil selamat setelah 5 unit kapal nelayan trawl lainnya tiba untuk memberikan pertolongan. Pukul 11.00 WIB kapal trawl milik H.Asek yang diserang itu tiba di dermaga Pulau Baai selanjutnya para korban dilarikan ke RS Bhayangkara.

Salah satu korban yang mengalami luka tembak di bagian paha, betis dan bahu sebelah kanan bernama Ijir (50) warga Kelurahan Pagar Dewa menceritakan kepada RB bahwa mereka diserang secara tiba-tiba. “Kami berada dalam satu kapal. Kami baru mau berangkat. Tiba-tiba langsung didatangi 3 kapal dan ada yang menembak pakai senapan,” tutur Ijir.

Berdasarkan keterangan Ijir, nelayan yang menyerang dari 3 kapal itu ada juga yang melemparkan batu dan bom molotov ke arah kapal yang ia tumpangi. “Mereka tidak berkata apa-apa, tahu-tahu langsung menyerang saja. Ada juga saya lihat yang memegang pedang samurai,” ujar Ijir didampingi istrinya, Heni.

Saat para korban sedang menjalani perawatan di RS Bhayangkara, puluhan nelayan tradisional datang ke Mapolda Bengkulu. Mereka justru melapor telah diserang oleh para nelayan trawl di Pulau Baai. Dituturkan salah seorang nelayan tradisional, Jalyus (48) warga Kelurahan Malabero kepada RB. “Kami tiba-tiba diserang 11 kapal nelayan trawl. Lalu kami diamankan polisi dan dibawa ke sini, ya kami melapor kalau kami diserang,” tutur Jalyus.

Informasi yang diperoleh RB, sekitar pukul 13.45 WIB penyerangan kembali dilakukan oleh nelayan tradisional di kolam pelabuhan Pelindo dekat dermaga KAL. Dua unit kapal nelayan trawl milik H.Asek dan 1 satu kapal milik H. Aming yang sedang lego jangkar di dekat dermaga KAL diserang oleh 2 unit kapal nelayan tradisional yang membawa penumpang masing-masing 40 orang dan 30 orang.

Penumpang kapal tersebut melakukan penyerangan dengan cara melempari batu ke arah kapal milik H.Aming dan H.Asek sehingga para ABK yang berada di atas 2 unit kapal trawl tersebut berusaha menyelamatkan diri dengan cara melompat ke dalam laut dan bersembunyi di dalam kamar mesin.

Selanjutnya nelayan tradisional menaiki kapal milik H.Aming dan H.Asek tersebut dan melakukan pengrusakan kapal dengan cara melempari dengan batu dan memukuli dengan balok, benda tajam jenis samurai dan berakhir pada pembakaran terhadap 2 kapal trawl tersebut. Kemudian pukul 14.00 WIB personil Angkatan Laut yang berada di KAL Pulau Mego datang dan memberikan tembakan peringatan sehingga nelayan tradisional langsung meninggalkan kolam pelabuhan.

Terkait dengan insiden penyerangan tersebut, patut diwaspadai serangan balasan dan pecahnya perang di laut. Mengingat sekitar pukul 14.15 WIB kemarin, 6 kapal nelayan trawl akan melaksanakan penyerangan balasan terhadap nelayan tradisional dengan jumlah masa sebanyak 50 orang. Namun enam kapal tersebut langsung dihalau oleh kapal Patroli DKP Tuna 01 yang melaksanakan patroli gabungan di pintu alur perairan pelabuhan Pulau Baai.

Partoli diikuti langsung oleh Wakapolda Bengkulu Kombes. Pol. Budi Wijanarko, Danlanal Bengkulu Letkol Laut (P) Andri Wahyu S, Direskrimsus Polda Bengkulu Kombes. Pol. Ahmad Tarmizi, Direktur Polair AKBP. Heru Agung Nugroho, S.IK.

Partoli dilakukan sampai ke Pulau Tikus. Sekitar pukul 15.30 WIB ditemukan ada 9 kapal nelayan tradisional melakukan sweeping terhadap nelayan trawl di perairan Pulau Tikus. Sembilan kapal nelayan tradisional tersebut juga langsung dihalau oleh rombongan patroli gabungan sehingga 9 kapal nelayan tradisional dapat di halau dan kembali ke Pantai Malabero

Kapolda Bengkulu Brigjend. Pol. Supratman, MH diwawancarai RB minta kedua belah pihak yakni nelayan trawl dan nelayan tradisional sama-sama menahan diri. “Saya minta semuanya menahan diri. Kedua belah pihak jangan terpancing. Pasti kita cari jalan keluar yang paling baik, kita ajak semuanya dari pemerintah dan Lanal supaya cepat selesai,” ujar Supratman yang sangat prihatin dengan kejadian ini.

Apakah ada indikasi pihak-pihak lain yang sengaja melakukan provokasi dibalik kejadian ini? Supratman dengan tegas mengatakan tidak ada. “Nggak ada. Konflik ni murni merupakan tindakan yang dilakukan sendiri oleh kedua belah pihak, ini sama-sama masalah perut,” demikian Supratman.

Nelayan Bengkulu Utara ke Bengkulu

Sementara itu puluhan nelayan Bengkulu Utara yang sebagian melengkapi diri dengan senjata tajam sempat akan menyusul ke Kota Bengkulu. Nelayan yang Air Napal yang sempat menyita jaring trawl yang digunakan oleh nelayan Pulau Baai. Bahkan, puluhan nelayan Air Napal sudah berkumpul di Pelabuhan Mini Desa Pasar Palik bersiap jika memang ada serangan.

Pantauan RB, kondisi memanas setelah nelayan palik mendapatkan kabar jika adanya pembakaran kapal nelayan tradisional di Pasar Bengkulu oleh nelayan Pulau Baai. Massa  nelayan Bengkulu Utara yang terprovokasi sempat serentak hendak menyusul dengan membawa berbagai senjata tajam.

Bahkan, Kapolres Bengkulu Utara AKBP. Ariefaldi WN, SH, S.IK, MM bersama jajaran Perwira Utama Polres Bengkulu Utara langsung menenangkan massa. Untungnya massa berhasil ditenangkan  meskipun mereka tetap bersikeras berangkat membantu nelayan tradisional Bengkulu.

Rusman Ketua Nelayan Tradisional Air Napal menuturkan jika nalayan pesisir pantai barat Bengkulu Utara , Mukomuko hingga pasar Bengkulu memiliki rasa solidaritas sebagai nelayan tradisional. Ii yang membuat emosi nelayan Bengkulu Utara juga terpancing saat melihat adanya pembakaran kapal nelayan Bengkulu.

“Kami akan berangkat Pak Kapolres, kami akan membantu jika nelayan tradisional di Bengkulu diserang. Begitupun mereka jika kami diserang,” tegasnya.

Ia juga menuturkan jika selama ini nelayan tradisional selalu diprovokasi oleh nelayan Pulau Baai. Bahkan kapal mereka pernah ditabrak nelayan Trawl hingga terbalik di tengah laut. Untungnya tidak ada korban jiwa.

“Kami terus diserang, mereka tau kapal kami kecil dan tidak bisa melawan. Bahkan kapal kami terbalik di laut pak,” ujarnya pada Kapolres Ariefaldi.

Nelayan Air Napal juga kesal lantaran mereka sudah berulangkali melaporkan permasalahan keributan ini ke Polda maupun Polair. Namun hingga kini tidak ada penyelesaian dan mereka nelayan. “Kami pernah melapor, namun tidak ada titik terang. Sedangkan akibat trawl tersebut kami nelayan tradisional tidak mendapatkan pendapatan lagi,” ketusnya.

Kapolres Ariefaldi menuturkan jika Polisi ingin berbuat yang terbaik dan melindugi semua pihak. Ia tidak ingin ada masyarakat yang terprovokasi hingga terjadi bentrok dan merugikan kedua belah pihak baik nelayan Bengkulu Utara maupun nelayan Bengkulu.

“Kami hanya mengingatkan tidka ada masyarakat hanya menjadi korban. Apalagi jika sampai ada kegiatan saling serang yang pastinya merugikan semua pihak. Makanya kami minta semua pihak tenang, menahan diri dan tidak mudah terprovokasi atau jangan memprovokasi,” imbuh Kapolres. (tew/qia)

Berita Lainnya

Bongkar 13 Sekretariat KKN, Pemuda Asal Seginim Diamankan Polres

KOTA MANNA – AP (26) warga Seginim spesialis bobol Sekretariat Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa ...

error: Content is protected !!