Kamis , 25 April 2019
Home / Metropolis / Maskapai Gunakan Tarif Batas Atas Sebagai Acuan

Maskapai Gunakan Tarif Batas Atas Sebagai Acuan

SEPI: Suasana di pintu keberangkatan Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu tampak sepi, Senin (8/4). Sepinya penumpang lantaran harga tiket pesawat masih terbilang tinggi. (foto: yudi/rb)

BENGKULU – Harga tiket maskapai penerbangan masih terbilang tinggi, sehingga  menyebabkan sepinya penumpang. Penyebab tingginya harga tiket adalah banyaknya maskapai yang menggunakan acuan tarif batas atas sehingga harga menjadi tergolong tinggi. Tingginya harga tersebut membuat banyak orang yang memilih pergi menggunakan transportasi alternatif lainnya.

Plt. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Bengkulu, M. Yusuf melalui  Kabid Pengembangan dan Perkeretaapian, Syafril menjelaskan, harga tiket ditentukan langsung oleh pihak maskapai. Harga tiket memiliki standar sesuai Keputusan Menteri (KM) Nomor 72 Tahun 2019 Tentang Perhitungan Tarif  Batas Atas dan Batas Bawah. “Keputusan menteri tersebut sudah disahkan sejak 29 Maret lalu dan mulai berlaku semenjak disahkan,” jelasnya, Senin (8/4).

Dari keputusan menteri tersebut terjadi perubahan yang signifikan untuk tarif batas bawah yang mulai naik. Dalam keputusan tersebut terbagi menjadi 3 jenis yakni Huruf A untuk pesawat baling-baling ukuran kecil seperti pesawat perintis untuk rute Bengkulu – Mukomuko yakni Rp 1.350.000 tarif batas atas dengan Rp 473.000 tarif batas bawah. Untuk Huruf B yakni pesawat baling-baling seperti Wings Air dan lainnya untuk rute Batam – Bengkulu yakni Rp 1.728.000 tarif batas atas dengan Rp 605.000 tarif batas bawah. Sementara itu, huruf C yang terdiri dari pesawat jet seperti Garuda, Lion Air, Batik dan lainnya untuk rute Bengkulu – Jakarta sebesar Rp 1.757.000 tarif batas atas dan Rp 615.000 tarif batas bawah.

“Ya ada keputusan menteri terbaru yakni KM 72 Tahun 2019 ada pembahasan terkait batas atas dan bawah untuk rute Bengkulu. Untuk masalah tarifnya kembali lagi kewenangan maskapai untuk memilih harganya,” ujarnya.

Ia menambahkan, tingginya harga dikarenakan maskapai yang cenderung memilih tarif batas atas sebagai acuannya. “Sebenarnya bukan tarif batas atas yang meningkat, tarif batas atas belum pernah mengalami perubahan lagi. Tetapi malah tarif batas bawah yang mengalami peningkatan pada KM terbaru tersebut,” jelasnya.

Ia berharap, ke depannya Bengkulu dapat menambah rute penerbangan udara serta maskapai baru yang masuk seperti di daerah lain. Pihak maskapai pun diharapkan dapat menurunkan harganya, tidak cenderung menggunakan tarif batas atas. Apalagi daya beli masyarakat Bengkulu mulai berkurang semenjak harga tiket pesawat mengalami kenaikan.

“Maskapai kebanyakan mengggunakan tarif batas atas sebagai acuan, cobalah menggunakan tarif yang menengah saja. Apalagi mengingat daya beli masyarakat yang mulai berkurang semenjak naiknya tarif tersebut,” katanya.

Dilansir RB sebelumnya, pada awal April ini harga tiket pesawat perlahan-lahan mulai turun walau tidak normal. Walau demikian, tetap saja penumpang masih sepi. Armina Holiday, merupakan salah satu jasa penjualan tiket pesawat yang merasakan dampak sepinya menumpang. Staf Armina Holiday, Reni Ayu menjelaskan untuk harga tiket maskapai Lion Air mengalami penurunan namun tidak terlalu signifikan.

Untuk penerbangan tujuan Bengkulu – Jakarta, dibanderol harga Rp 745.000. Beda lagi maskapai Garuda, saat ini harga tiket tujuan Bengkulu – Jakarta, mencapai Rp 1.533.400. “Ya cukup jauh sih kenaikannya, sampai 100 persen jika dibanding tahun lalu, mulai naiknya itu sejak Desember tahun lalu,” jelasnya. (cw1)

Berita Lainnya

Jelang Mutasi, Pejabat Pemkot Dikumpulkan

BENGKULU – Secara mendadak Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bengkulu, Marjon, MPd Rabu (24/4) pagi memanggil ...

error: Content is protected !!