Senin , 22 Juli 2019
Home / Metropolis / Ekspor CPO Bengkulu Capai 984.340 MT

Ekspor CPO Bengkulu Capai 984.340 MT

TEKEN: GAPKI Cabang Bengkulu dan PT Pelabuhan Tanjung Priok menandatangani perjanjian Head of Agreement yang disaksikan oleh Gubernur Bengkulu, Dr. H. Rohidin Mersyah, MMA. (foto: yudi/rb)

BENGKULU – Ketua Gabungan Pengusaha Kelompok Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Bengkulu, Jhon Irwansyah Siregar mengatakan tahun 2018 lalu produksi Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah yang di ekspor dari Bengkulu mencapai 984.340 Metrik Ton (MT). Namun sayangnya, hanya sekitar 441.000 MT yang ekspornya melalui Pelabuhan Pulau Baai.

Dengan kata lain, lebih dari setengah minyak sawit mentah asal Bengkulu di ekspor melalui pelabuhan provinsi tetangga. Maka untuk mengantisipasi itu, diperlukan rencana pembangunan Terminal Curah cair. Hal ini dikatakannya saat acara pelantikan pengurus GAPKI Cabang Bengkulu di Hotel Santika, kemarin (10/4) pagi. Dimana dalam pelantikan itu, Jhon Irwansyah Siregar terpilih sebagai Ketua GAPKI Cabang Bengkulu.

Untuk mewujudkan itu, kemarin GAPKI Cabang Bengkulu dan PT Pelabuhan Tanjung Priok menandatangani Head of Agreement dalam mendukung kelanjutan rencana pembangunan Terminal Curah Cair (TCC) yang terintegrasi di Pulau Baai. GAPKI Bengkulu juga siap membantu pemerintah mewujudkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Pelabuhan Pulau Baai.

“Kami siap membantu mewujudkan Kawasan Ekonomi Khusus, Kalau Bengkulu sudah ada TCC, maka nanti distribusi CPO baik lokal maupun ekspor cukup melalui Bengkulu saja sehingga dapat meningkatkan pendapatan daerah,” ujarnya.

Selaku ketua GAPKI Bengkulu yang baru terpilih, Jhon berharap industri sawit dapat terus berkembang. Solusi untuk berkembangnya industri sawit adalah saling bekerja sama dari semua pihak dalam menata kembali dan meremajakan kembali perkebunan rakyat sehingga produksi TBS semakin baik dan meningkat. Menurut data terakhir luas kebun sawit di Provinsi Bengkulu adalah seluas 379084 hektar yang terdiri dari perkebunan sawit rakyat seluas 248817 hektar, perkebunan besar milik negara seluas 3635 hektar serta perkebunan besar swasta seluas 126632 hektar.

Sementara itu, Ketua GAPKI Pusat, Joko Supriono mengataka GAPKI adalah wadah untuk relasi antar pengusaha sawit di Indonesia. Gapki Cabang Bengkulu merupakan cabang ke 11 yang dibentuk dan memiliki 14 perusahaan yang tergabung di dalamnya dengan jumlah areal perkebunan kepala sawit anggota Gapki cabang Bengkulu sendiri seluas 94.894,97 hektare atau sekitar 25 persen dari total luas areal perkebunan sawit se Provinsi Bengkulu.

Kehadiran Gapki sendiri diharapkan dapat menyatukan kekuatan dan bisa memajukan perusahaan sawit yang ada. “Sawit menjadi salah satu potensi yang menjanjikan untuk pertumbuhan ekonomi. Saat ini industri sawit sedang mendapat tantangan dari rencana regulasi pelarangan sawit di negara Eropa. Jika regulasi ini benar-benar diterapkan, maka akan cukup mempengaruhi industri kelapa sawit di Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Bengkulu, Dr. H. Rohidin Mersyah, MMA yang ikut hadir mengatakan GAPKI, adalah wadah dari seluruh pelaku usaha kelapa sawit yang diharapkan dapat betul- betul menyatukan kekuatan dan bisa memajukan perusahaan sawit. “Daya saing usaha ditingkatkan sehingga pertumbuhan ekonomi Bengkulu diharapkan dapat meningkat,” ujarnya.

Ia juga meminta GAPKI tidak hanya memproduksi CPO, tetapi mencoba inovasi lain. Tak hanya itu saja, Dinas terkait juga harus membantu memfasilitasi perkebunan rakyat untuk kerja sama dengan pelaku usaha perusahaan sawit yang ada di Bengkulu. “Sehingga nantinya pelaku usaha sawit di Provinsi Bengkulu dapat ikut bergabung ke sana,” tutupnya.(cw1)

Berita Lainnya

Stok Banyak, Harga Cabai Mulai Turun

BENGKULU – Harga cabai di sejumlah pasar tradisional di Kota Bengkulu mulai mengalami penurunan. Setelah ...

error: Content is protected !!