Jumat , 21 Juni 2019
Home / Metropolis / Terpaksa Rawat Anak Dalam Gerobak

Terpaksa Rawat Anak Dalam Gerobak

BERJALAN: Jenes (36)  saat membawa gerobaknya berkeliling Kota Bengkulu mencari barang bekas untuk dijual. (foto: yudi/rb)

Jenes, pria kelahiran 17 April 1983 harus menanggung beban sendiri merawat anak semata wayangnya setelah sang istri meninggal dunia karena penyakit gagal ginjal. Karena tuntutan ekonomi, Jenes terpaksa mengasuh anaknya di dalam gerobak. Simak liputannya.

M.RIZKI WAHYUDI, Kota Bengkulu

JENES, sehari-hari tinggal di kontrakan yang berada di Jalan Merapi 15 Kelurahan Kebun Tebeng. Istrinya meninggal dunia 2013 silam, setelah berjuang melawang penyakit gagal ginjal, usai melahirkan anak semata wayang mereka yang diberi nama Hana Safira.

Setelah kepergian sang istri, Jenes terpaksa merawat anaknya yang masih berusia 7 hari itu seorang diri. Warung manisan yang menjadi andalan untuk menopang kehidupan sehari-hari selama ini sudah tutup, karena modal dan keuntungannya habis digunakan untuk pengobatan sang istri.

Kondisi itu semakin membuat Jenes kebingungan. Pria asal Kota Bandung itupun memilih untuk bertahan. Karena tak punya modal lagi, dan sulit mencari kerja, ia pun terpaksa mencari rezeki dari mengais barang-barang bekas, satu bulan setelah kepergian sang istri. Menjadi seorang pemulung bukanlah hal mudah yang harus dijalani Jenes. Anaknya yang masih berumur 1 bulan tersebut tentu tidak bisa ditinggal begitu saja.

Alhasil, ia pun harus membawa serta anaknya disaat sedang memulung barang bekas. Untuk mengumpulkan barang bekas, Jenes menggunakan gerobak ukuran 1×2 meter yang dibuatnya sendiri. Tidak hanya untuk mengangkut barang bekas, namun gerobak itu juga sebagai tempat tidur sang anak selama ia bekerja.

Ditemui di Kawasan Simpang Skip Bengkulu Kamis (11/4), Jenes mengatakan, kendati hanya seorang diri, ia ingin sang anak selalu dekat dengannya. Ia juga tidak berani menitipkan anaknya itu pada orang lain. Dari usahanya itu, Jenes mampu mengumpulkan uang Rp 10-Rp 20 ribu perharinya. Jumlah itu, tentu tidaklah cukup.

Untuk membayar kontrakannya saja, ia harus merogoh kocek hingga Rp 400 ribu bulan, dan itupun sering menunggak. “Ya dulu sempat jualan, tapi setelah istri meninggal saya terpaksa memulung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya bawa anak untuk menjaga dan merawatnya langsung,” jelasnya.

Saat ini, sang putri kecilnya  itu sudah duduk dibangku TK Bintang Kecil dan akan segera masuk Sekolah Dasar. Akan tetapi, ia mengaku bingung karena tidak memiliki persyaratan seperti akte dan lainnya. Bahkan untuk pemindahan KTP pun ia kesulitan karena membutuhkan uang. Untuk surat domisili pun sampai saat ini ia juga belum punya.

“Harapan saya, pemerintah dapat mengulurkan tangannya, sampai sekarang belum ada bantuan yang saya terima karena masalah KTP, KK dan sebagainya. Saya juga berharap anak saya bisa sekolah seperti anak seusianya,” tutupnya. (**)

Berita Lainnya

23 Tahun Trayek Angkot Belum Direvisi

BENGKULU – DPRD Kota Bengkulu kembali mendesak agar Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu segera merevisi jalur ...

error: Content is protected !!