Kamis , 22 Agustus 2019
Home / Metropolis / Segera Kaji Harga Tiket Pesawat

Segera Kaji Harga Tiket Pesawat

SEPI: Harga tiket pesawat yang masih tinggi, membuat suasana di Bandara Fatmawati Soekarno tidak seramai seperti sebelumnya. (foto: yudi/rb)

BENGKULU – Mahalnya harga tiket pesawat saat ini berdampak pada perekonomian Bengkulu. Pengamat Ekonomi Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Kamaludin, MM mengatakan mobilisasi masyarakat saat ini menjadi rendah. Efeknya tingkat kunjungan warga ke Provinsi Bengkulu menjadi berkurang. Mempengaruhi hunian hotel serta produk usaha kecil menengah (UMKM) lainnya. Harga tiket ini harus dikaji ulang, sebelum berdampak lebih besar bagi sektor perekonomian.

“Kalau berlangsung lama seperti ini, dampaknya inflasi sudah pasti, dan kenaikan inflasi ini sudah diumumkan resmi oleh pemerintah. Dengan tiket mahal, kenaikan inflasi cenderung ada dampak pada harga barang yang lain. Walaupun tidak begitu besar,” terang Kamaludin.

Dia mencontohkan, pedagang yang selama ini menggunakan pesawat untuk mengirim barang dagangannya, terpaksa beralih pada armada lain. Bagi pedagang yang bertahan menggunakan pesawat, cost menjadi lebih tinggi. Tentu saja, akan berdampak pada harga yang lebih mahal.

Yang terdampak paling signifikan terhadap kenaikan harga tiket ini adalah masyarakat kecil. Yang selama ini ke Jakarta pulang pergi cukup Rp 1 juta, sekarang menjadi dua kali lipatnya, bahkan lebih. “Kalangan atas ada dampak, tetapi tidak terlalu. Sebagian besar masyarakat kita kalangan bawah, mereka yang sangat terdampak,” katanya.

Kamaludin mengatakan, dia baru saja pulang dari bepergian. Seluruh bandara saat ini sepi. Artinya bandara sibuk pun saat ini sepi akibat mahalnya harga tiket pesawat. Walaupun ada turun, namun penurunan harga itu tidak signifikan. Penumpang berat membeli tiket karena naik dari biasanya dua kali lipat.

“Saya pikir sudah mulai ada dampaknya, lihat saja yang dibandara pedagang makanan sekarang sudah sepi,” terangnya.

Kebijakan penarikan biaya bagasi pesawat juga dikeluhkan. “Saya baru saja dari Jakarta ke Bengkulu, duduk di sebelah ibu-ibu. Dia cerita dikasih oleh-oleh dari keluarganya, karena harus bayar bagasi sampai Rp 900 ribu, akhirnya dia memutuskan meninggalkan oleh-olehnya di bandara. Ya tidak sebanding, harga oleh-olehnya senilai Rp 200 ribu,” terangnya.

Kenaikan harga tiket ini agak berat terasa. Warga mobilitasnya jadi rendah. Seluruhnya punya dampak dengan mobilitas rendah. “Hotel rumah makan akan punya dampak,” terangnya.

Dijelaskannya, Menteri Perhubungan RI sudah beberapa kali mengimbau supaya maskapai mengkaji ulang harga tiketnya. Namun yang menjadi masalah saat ini harga tiket belum juga turun. “Yang punya peran itu Presiden, supaya imbauan itu bisa dipatuhi,” katanya.

Kenaikan ini diakui memang ada sedikit efek postif bagi angkutan darat, bus. Tapi tidak kentara lantaran orang terlanjur sudah biasa menggunakan Pesawat. “Ada peralihan sedikit tapi tidak sejaya eranya dulu. Harus cepat dikaji ulang harga tiket. Misalnya dulu harga Rp 400-500 ribu, kalau ke Jakarta PP 1 juta bahkan kurang. Idealnya Rp 600 harga tiket kenaikan ada tapi jangan tinggi sekali,” terangnya.

Sebelumnya pada pertemuan kepala daerah se Indonesia di Padang, Sumatera Barat, Gubernur Bengkulu Dr. H. Rohidin Mersyah meminta langsung pada Wakil Presiden RI Jusuf Kalla supaya pemerintah pusat bisa mengkaji ulang harga tiket. Sebab dengan mahalnya harga tiket berdampak pada ekonomi daerah.(del)

Berita Lainnya

Resmi Dilantik, Anggota DPRD Kota Bengkulu Diminta Bersinergi dan Kerja Profesional

BENGKULU–  Pasca Pemilu Presiden RI dan Legislatif, termasuk Pemilihan Legislatif DPRD Kota Bengkulu 17 April ...

error: Content is protected !!