Senin , 22 Juli 2019
Home / Metropolis / Tiga Bulan, 85 Kasus DBD

Tiga Bulan, 85 Kasus DBD

FOGGING: Petugas Dinkes memfogging rumah-rumah di RT 11 Kelurahan Lingkar Barat yang mana banyak kasus DBD yang terjadi disana. (foto: ist/rb)

BENGKULU – Masyarakat Kota Bengkulu patut mewaspadai Demam Berdarah Dengue (DBD), penyakit menakutkan sekaligus mematikan yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Segypti. Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bengkulu, terkait perkembangan kasus, pada 2019 sampai dengan maret sudah terjadi sebanyak 85 kasus DBD di Kota Bengkulu yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada.

Maka dari itu, Dinkes Kota langsung bergerak dan berusaha mencari solusi untuk menaggulanginya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, Susilawati, M.Kes menjelaskan jumlah penderita DBD di Kota cukup tinggi yang mana dari januari sampai maret 2019 sudah terjadi 85 kasus. Sementara itu, pada 2018 lalu di Kota Bengkulu sendiri terjadi 267 kasus yang tersebar di 9 kecamatan yang ada.

Maka dari itu, pihaknya sudah mengajak seluruh camat, lurah, kader kesehatan dan toko masyarakat Kota Bengkulu untuk membahas tentang penanggulangan DBD. Ia menjelaskan bahwa cara penanggulangannya ada tiga macam yakni cara biologi, kimia dan fisik. Cara pertama ialah melalui cara fisik, yakni dengan giat 3M yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang.

Cara biologis yaitu mencoba menghadang datangnya nyamuk dengan cara alami lewat penanaman aneka tanaman di rumah atau lingkungan sekitar seperti lavender, sereh, dan zodia. Sedangkan cara terakhir adalah fogging dengan menggunakan pestisida yang bertujuan untuk membunuh nyamuk-nyamuk dewasa penyebab penyakit demam berdarah, malaria, dan zika.

Maka dari itu, ia meminta seluruh masyarakat bergerak dalam memberantas sarang nyamuk. “Gerakan pemberantasan sarang nyamuk, semua harus berperan aktif, ada 3 cara yakni dengan fisik, biologi serta kimia untuk penaggulangannya,” ujarnya.

Ia menambahkan, nanti pihaknya akan menggalakkan program perangkap nyamuk untuk mengurangi jumlah nyamuk yang beredar. Nantinya Perangkap nyamuk tersebut akan seperti hotelnya para nyamuk yang mana mereka akan hinggap disana, bertelur disana dan akan mati karena tidak bisa keluar. Nantinya juga menggalakkan kembali gerakan 1 rumah 1 juru pemantik (jumantik).

Jumantik bertugas memantau jentik nyamuk atas persebaran penyakit DBD yang ada di rumah-rumah dan lingkungan sekitar. Ia juga meminta masyarakat untuk rutin menguras air yang tergenang dikarenakan nyamuk DBD berada di genangan air bersih.

“Nyamuk DBD berada di genangan air bersih, maka dari itu wajib untuk rutin menguras genangan-genangan air seperti bak mandi, ember dan sebagainya,”jelasnya. Ia juga menyarankan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Beberapa gejala DBD yang perlu diwaspadai adalah demam mendadak tinggi, sakit kepala parah, nyeri sekujur tubuh dan nyeri sendi dan gejala lainnya.(cw1)

Berita Lainnya

Stok Banyak, Harga Cabai Mulai Turun

BENGKULU – Harga cabai di sejumlah pasar tradisional di Kota Bengkulu mulai mengalami penurunan. Setelah ...

error: Content is protected !!