Rabu , 23 Oktober 2019
Home / Berita utama / Aktivitas Pertambangan di Diduga Rusak Sungai di Bengkulu Tengah

Aktivitas Pertambangan di Diduga Rusak Sungai di Bengkulu Tengah

DANGKAL: Aliran Sungai Bengkulu yang berubah warna dan dangkal diduga akibat dari aktivitas pertambangan batu bara di hulu sungai. (foto : fintah/rb)

BENTENG – Aliran air Sungai Bengkulu saat ini sudah tidak seperti dulu lagi. Dulu air bersih dan juga masih dalam. Sekarang sudah berwarna cokelat dan terjadi pendangkalan. Hal ini diduga karena adanya kegiatan di daerah hulu sungai, antara lain kegiatan perusahaan pertambangan batu bara.

Beberapa perusahaan tersebut seperti PT. IBP (inisial). Selain warna air sungai yang berubah saat ini, banyak juga lahan persawahan milik warga yang tidak bisa digarap lagi. Seperti lahan persawahan di Desa Tanjung Raman yang saat ini sudah berubah menjadi endapan lumpur bercampur kerikil. Beberapa pemilik lahan menduga hal tersebut murni dampak kegiatan di hulu sungai. Namun, hal tersebut belum disertai dengan hasil penelitian secara langsung di lapangan.

Camat Taba Penanjung, Sofyan Ansori S.Sos menjelaskan bahwa aktivitas seperti pertambangan seperti PT IBP sudah lama. “Dulunya dikerjakan oleh  PT DMH,” katanya.

Untuk kegiatan tersebut, belum ada laporan keruskaan lingkungan atau sejenisnya. Sepengetahuan Camat, sejak beroperasi tahun 1988 lalu, perusahaan melakukan kewajiban seperti reklamasi. Jika ada abrasi dibeberapa aliran sungai saat ini, hal tersebut karena kegiatan pengerukan atau pencarian batu bara dialiran sungai. Hal itu jika dihentikan tidak akan terjadi lagi pendangkalan ataupun sejenisnya. “Kalau ada pihak yang belum jelas, bisa datang kepada kami di Kecamatan,” ujarnya.

Plt.Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Benteng mengatakan untuk semua perusahaan yang melakukan kegiatan di Kabupaten Benteng, termasuk dengan izin lingkungan sudah ditangani pihak Pemerintah Provinsi. Sementara pihak Kabupaten hanya memiliki kewenangan terbatas. Mengenai adanya dugaan kondisi air sungai bahkan lahan persawahan milik masyarakat yang tertimbun akibat adanya kegiatan di hulu sungai, jika hal tersebut memang dinilai merugikan maka silahkan menyampaikan. Nantinya tim akan turun kelapangan untuk mengecek kebenaran laporan yang disampaikan.

Untuk saat ini, aktivitas perusahaan baik itu perkebunan ataupun pertambangan masih terus berlangsung karena memiliki izin yang lengkap. Namun, izin tersebut bukan dari daerah atau OPD di Kabupaten Benteng. Kewenangan pemberian izin sudah lama diambil oleh pihak Pemerintah pusat dan juga Provinsi Bengkulu. “Untuk laporan resmi sampai saat ini belum ada yang masuk,” demikian Mahendra.(vla)

Berita Lainnya

Terima Kasih Nopian Andusti, Selamat Datang Hamka Sabri

BENGKULU– Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengucapkan terima kasih atas pengabdian yang diberikan Nopian Andusti selama ...

error: Content is protected !!