Rabu , 23 Oktober 2019
Home / Berita utama / Tafsir Ayat-Ayat Alquran dalam Konteks Kenegaraan (Part 2)

Tafsir Ayat-Ayat Alquran dalam Konteks Kenegaraan (Part 2)

Zulkarnain Dali

Prinsip-Prinsip Pemerintahan dalam Tafsir al-Mishbah

PANGKAL dari prinsip-prinsip politik dan dasar-dasar pemerintahan dalam Alquran, menurut Quraish Shihab dijelaskan pada dua ayat, yaitu dalam surat al-Nisâ` ayat 59 dan Âli ‟Imrân ayat 26. Tafsir surat al-Nisâ` ayat 59 adalah sebagai berikut, yang Artinya :

” Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya,”

Menurut Quraish Shihab, surat al-Nisâ` ayat 58 dan 59 mengandung prinsip-prinsip pokok ajaran Islam dalam hal kekuasaan dan pemerintahan. Bahkan, pakar tafsir Rasyid Ridha berpendapat, ”Seandainya tidak ada ayat lain yang berbicara tentang pemerintahan, maka kedua ayat ini telah memadai.”

Ayat 59 dari surat al-Nisâ` di atas menyatakan adanya struktur dalam masyarakat yang disebut ûlî al-amr yang diterjemahkan sebagai orang-orang yang berwenang mengurus urusan kaum muslimin. Mereka terdiri dari para penguasa atau pemerintah, ulama, dan mereka yang mewakili masyarakat dalam berbagai kelompok dan profesinya. Dalam analisis lebih lanjut mengenai bentuk jamak pada kata ûli, Quraish Shihab lebih cenderung pada pendapat yang menyatakan bahwa mereka meliputi badan atau lembaga maupun orang perorang yang masing-masing memiliki wewenang yang sah untuk memerintah dalam bidang masing-masing.

Prinsip pokok yang diwacanakan dalam tafsir ayat di atas menyangkut hubungan masyarakat dengan ûli al-amr adalah kepatuhan. Masyarakat wajib taat kepada para ûli al-amr suka atau tidak suka sepanjang ûli al-amr tersebut taat kepada Allah. Tidak ada ketaatan dalam durhaka atau bermaksiat kepada Allah. Menurut Quraish Shihab, taat dalam bahasa Al-Qur`an berarti tunduk, menerima secara tulus, atau menemani. Dengan demikian, ketaatan dimaksud bukan sekadar melaksanakan apa yang diperintahkan, tetapi juga ikut berpartisipasi dalam upaya yang dilakukan oleh penguasa untuk mendukung usaha-usaha pengabdian kepada masyarakat. Partisipasi masyarakat adalah dukungan positif, termasuk kontrol sosial demi suksesnya tugas-tugas yang mereka emban.

Prinsip-prinsip kekuasaan selanjutnya dijelaskan dalam tafsir surat Âli „Imrân ayat 26, artinya :

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa kekuasaan memerintah (kekuasaan politik) yang dipimpin manusia di muka bumi adalah pemberian Tuhan atas kehendak-Nya, maka sewajarnya Tuhan mencabutnya kapan saja Dia menghendaki. Mekanisme pemberian dan pencabutan diwacanakan sebagai sesuatu yang melalui mekanisme hukum yang telah ditetapkan Allah dan berlaku dalam kehidupan masyarakat sebagaimana hukum-hukum alam.

Tafsir dari dua ayat di atas menunjukkan adanya wacana mengenai unsurunsur kekuasaan yang rasional yaitu hubungan ketaatan berdasarkan aturan-aturan hukum dan suprarasional yaitu ketaatan pada hukum-hukum Tuhan sebagaimana kepasrahan kepada hukum-hukum alam. Wacana kekuasaan rasional diperkuat dalam kisah pengangkatan Thâlût sebagai raja Bani Israil dalam tafsir surat alBaqarah ayat 247. Ayat tersebut mengkisahkan penolakan yang dilakukan para pemuka Bani Israil terhadapat pengangkatan Thâlût sebagai raja. Pejelasan isi kandungan ayat secara umum adalah:

Kami (pemuka Bani Israil) lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripada dia (Thâlût). Ini mereka kemukakan karena Thâlût bukan keturunan bangsawan, sedang para pemuka masyarakat itu adalah bangsawan yang secara turun-temurun memerintah. Di sisi lain, lanjut mereka, sedang dia pun tidak diberi kelapangan dalam harta. Keberatan mereka telah dibantah oleh nabi mereka dengan kelanjutan ayat, Allah telah memilihnya atas kamu dan melebihkan untuknya keluasan dalam ilmu serta keperkasaan dalam jasmani.

Quraish Shihab pada satu sisi berada pada sudut pandang yang menerima pemahaman yang suprarasional, bahwa pengangkatan raja Bani Israil tersebut atas kehendak Tuhan secara mutlak. Berdasarkan bagian ayat ”Allah memberikan kekuasaan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, berdasarkan hikmah dan kebijaksanaan-Nya. Dan, Allah Maha Luas kekuasaan, keagungan, dan rezekinya, lagi Maha Mengetahui”, Quraish Shihab berkesimpulan bahwa bagian ayat tersebut merupakan penegasan bahwa Allah sebagai sumber kekuasaan memiliki hak mutlak mengangkat dan memberhentikan seorang raja, sehingga seandainya masyarakat tidak mengetahui alasan pengangkatan raja tersebut, maka masyarakat semua tidak dapat berkeberatan karena Allah adalah pemilik kekuasaan.

Dikotomi antara kekuasaan rasional berdasarkan aturan-aturan hukum dengan kehendak dan kekuasaan mutlak Allah dikompromikan oleh Quraish Shihab melalui penutup tafsir surat al-Baqarah ayat 247. Quraish Shihab membuat sebuah kesimpulan yang menunjukkan sikap rasional bagaimana hak mutlak Allah sebagai sumber kekuasaan itu beroperasi dalam sebuah dunia politik nyata secara sejarawi. Menurut Quraish Shihab, bahwa:

Wewenang memerintah bukanlah atas dasar keturunan, tetapi atas dasar pengetahuan dan kesehatan jasmani, bahkan di sini diisyaratkan bahwa kekuasaan yang direstui-Nya adalah yang bersumber dari-Nya, dalam arti adanya hubungan yang baik antara penguasa dan Allah swt. Di sisi lain, ayat ini mengisyaratkan bahwa bila Anda ingin memilih, janganlah terperdaya oleh keturunan, kedudukan sosial, atau popularitas, tetapi hendaknya atas dasar kepemilikan sifat-sifat dan kualifikasi yang dapat menunjang tugas yang akan dibebankan kepada yang akan dipilih.(**)

Berita Lainnya

Terima Kasih Nopian Andusti, Selamat Datang Hamka Sabri

BENGKULU– Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengucapkan terima kasih atas pengabdian yang diberikan Nopian Andusti selama ...

error: Content is protected !!