Minggu , 15 Desember 2019
Home / Berita utama / Tambang Batu Bara Ancam Cemari Sungai

Tambang Batu Bara Ancam Cemari Sungai

ARGA MAKMUR – Aktivitas pertambangan batu bara di Bengkulu Utara (BU) bukan hanya menyebabkan kerusakan jalan. Namun juga mengancam kelangsungan lingkungan hidup. Beberapa titik penambangan terancam mencemari sungai.

Seperti penambangan BB di Desa Pondok Batil Kecamatan Ulok Kupoi yang dilakuka PT Injatama. Penambangan cukup dekat dengan sungai. Hal ini bisa berakibat meluasnya sungai sekaligus pencemaran akibat akibat penambangan yang masuk ke dalam sungai.

Penambangan BB PT Inatama memang kerap kali mencemari sungai, terutama aktivitas angkutan batu bara dengan pelabuan pribadi di sungai ketahun. Setidaknya lebih dari tiga kali kapal tongkang bermuatan ribuan ton batu bara karam hingga BB tumpah ke sungai.

Tak hanya itu, meskipun memiliki beberapa titik jalan tambang, namun hampir seluruh pertambangan BB di BU masih melintasi jalan nasional, provinsi, kabupaten hingga jalan desa. Mereka menggunakan tronton yang tentunya tidak sesuai dengan kelas jalan di BU maksimal hanya mampu menahan beban 8 ton.

Terkait hal itu, Anggota Komisi III Dedy Syafroni meminta Pemkab BU menyurati Pemprov. Ia menilai aktifitas pertambangan BB kini lebih banyak dampak negatifnya baik kerusakan infrastruktur maupun dampak yang langsung terjadi di masyarakat.

“Sedangkan jalan-jalan kita yang rusak kini menjadi beban pemerintah dan tidak mungkin langsung diperbaiki. Jelas harus dipertimbangankan lagi keberadaan tambang tersebut,” katanya.

Keberadaan tambang nyaris tak ada dampak pendapatan bagi BU melainkan Dana Bagi Hasil (DBH) Pertambangan. DBH yang dihasilkan tidak sesuai denga kerusakan infrastruktur dampak konflik yang ditimbulkan di tengah masyarakat.

Bandel Tak lakukan Reklamasi

Tak hanya itu, perusahaan tambang batu bara juga kerap bandel dan tak melakukan reklamasi pasca tambang. Saat ini sudah ada dua titik lubang bekas tambang yang ditinggalkan oleh perusahaan penambangnya. “Sedangkan dalam izin tentunya perusahaan wajib melakukan reklamasi. Nyatanya, saat ini banyak yang tidak melakukan reklamasi pasca penambangan. Bahkan ditinggalkan begitu saja,” tandasnya.

Sementara itu itu Kepala Teknik Tambang PT Injatama Prio mengakui jika penmabangan yang dilakukan PT Injatama sudah sesuai aturan. Termasuk penambangan yang ada di Desa Pondok Bakil. Sesuai dalam perizinan, versiya penambangan yang dilakukan lebih dari 1 KM dari aliran sungai. “Tidak terlalu dekat, sesuai dengan aturan diatas 1 Km,” katanya.

Selain itu ia juga mengaku terus dilakuakn pengecekan limbah baik perusahaan maupun dampak aktifitas perusahaan. “Kami tidak pernah mendapatkan raport hitam terkait limbah,” pungkas Prio. (qia)  

Berita Lainnya

Direktorat Narkoba Polda Bengkulu Berhasil Ungkap 22 Kasus dan Penjarakan 35 Tersangka

BENGKULU– Sepanjang tahun 2019, Direktorat Narkoba Polda Bengkulu dan Polres jajaran berhasil memenjarakan 35 tersangka ...

error: Content is protected !!