Jumat , 20 September 2019
Home / Borgol / Ketua Komisi Terdakwa, JPU Hadirkan 12 Saksi

Ketua Komisi Terdakwa, JPU Hadirkan 12 Saksi

SIDANG: 12 orang saksi yang dihadirkan JPU dalam kasus dugaan korupsi atas terdakwa Ketua Komisi DPRD Benteng, Hanaldin di PN Tipidkor Bengkulu, Selasa (21/5).(foto: hasrul/rb)

BENGKULU – Sidang dugaan korupsi yang mendudukan Ketua Komisi I DPRD Bengkulu Tengah (Benteng), Hanaldin sebagai terdakwa kembali dilanjutkan di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Bengkulu, kemarin (21/5) siang. Kali ini Jaksa Penuntut Umum (JPU), Dewi Kumulasari, SH menghadirkan 12 saksi sekaligus yang umumnya kolega Hanaldin di DPRD Benteng.

Saksi tersebut, Ketua DPRD Benteng, Tarmizi, Waka I, Rico Zaryan, Sekwan Benteng, Nurul Iwan Setiawan. Hadir pula, Sekretaris Komisi I, Keny Oriza, anggota Komisi I, M Nasir Jahiya,  Suarni, S.Sos, Evi Susanti, S. IP, Ibnu Hajar, Ujang Asmawi dan M Dai. Serta salah seorang staf DPRD Benteng, Yulisa Hartati, S.Kom. JPU juga menghadirkan anggota polisi,Indra Liansyah yang melakukan penangkapan terhadap Hanaldin.

Pada persidangan tersebut terkuak jika sebelum Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Polda Bengkulu memang dilakukan rapat dengar pendapat atau hearing antara Komisi I DPRD Benteng dengan Dinas Kesehatabn (Dinkes) Benteng yang dihadiri Plt Kadiskes, Mulya Wardana. Bahkan, ditengah-tengah rapat hearing berlangsung Ketua Komisi, Hanaldin sempat memanggil Mulya Wardana. Hal itu diketahui oleh anggota Komisi I DPRD Benteng lainnya yang hadir pada saat hearing tersebut.

“Yang saya lihat Mulya Wardana dipanggil, saya nggak tahu yang dibicarakan, saya tidak mendengar yang mereka bicarakan, hanya berbisik-bisik,” kata saksi Sekretaris Komisi I, Keny Oriza  menjawab pertanyaan majelis hakim, Henny Anggraini, SH, MH.

Tidak diketahui persis isi pembicaraan antara Hanaldin dan Mulya Wardana tersebut, namun kuat dugaan ada kaitan dengan pengesahan anggaran yang tengah mereka bahas. Disisi lainnya, pada kesempatan itu JPU Dewi Kumulasari terus mencecar para anggota DPRD Benteng berkenaan dengan aliran fee dari Hanaldin apakah menerima atau tidak. Namun mulai dari Ketua DPRD hingga anggota semuanya menjawab tidak tahu dan tidak menerima aliran uang haram tersebut. “Apakah pernah menerima aliran fee komitmen dari terdakwa Hanaldin ini,” tanya JPU Dewi kepada para saksi dewan. “Tidak pernah,” jawab Tarmizi yang kemudian diikuti dewan- lainnya.

Sementara itu, dari keterangan saksi Indra Liansyah yang melakukan penangkapan menjelaskan jika sebelum OTT yang dilakukan pihaknya, mereka memang mendapatkan informasi dari pelapor Mulya Wardana yang mengeluh sering dimintai uang oleh terdakwa. “Dia mengadu jika dia sering dimintai uang, ini yang ketiga kalinya dia minta Rp 10 juta,” kata Indra saat menjawab pertanyaan majelis hakim yang diketuai Slamet Suripto, SH, MH.

Majelis hakim juga bertanya kepada saksi Indra berkaitan dengan uang yang ditemukan di kediaman Hanaldin, temasuk juga ditemukan bekas sobekan amplon berwarna cokelat di ruang tamu rumah. “Uang yang ditemukan saat dihitung sama-sama sebesar Rp 8.050.000,- saat kami tanya, sisanya Rp 1.950.000 sudah diberikan kepada orang lain. Kami juga menemukan bekas sobekan amplop di lantai tak jauh dari tas warna hitam tempat menyimpan uang. Tas itu berada di atas kursi,” terang Indra.

Penasihat Hukum (PH) terdakwa yakni Zainal Abidin, SH ditemui usai persidangan mengatakan perkara yang dialami kliennya itu seperti jebakan yang dilakukan oleh Mulya Wardana. “Ini seperti jebakan kepada klien kami, karena sebelum Mulya memberikan uang kepada Hanaldin dia sudah mengkonfirmasi ke pihak kepolisian,” ujarnya.(zie)

Berita Lainnya

Curi Mesin Air, Tiga Pemuda Diringkus Polsek Muarabangkahulu

BENGKULU–  Polsek Muarabangkahulu, Kamis (19/9) berhasil meringkus tiga orang pelaku pencurian. Yakni EC (21), AM ...

error: Content is protected !!