Selasa , 19 November 2019
Home / Berita utama / Lebaran Serentak Besok, NU dan Muhammadiyah Satu Suara

Lebaran Serentak Besok, NU dan Muhammadiyah Satu Suara

PANTAU: Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu Drs. H, Bustasar MS, M.Pd bersama tim pemantuan hilal sedang memantau posisi hilal di Mess Pemda Provinsi Bengkulu Senin (3/6) sore.

JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) menuntaskan sidang isbat Senin malam (3/6). Hasilnya, pemerintah memastikan bahwa 1 Syawal 1440 Hijriah jatuh pada Rabu (5/6). Dengan begitu, bisa dipastikan bahwa Idul Fitri tahun ini dirayakan serentak besok. Sebelumnya, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sudah lebih dulu mengumumkan bahwa besok adalah tanggal 1 Syawal.

Berdasar hasil pengamatan petugas rukyat pada 105 titik di seluruh wilayah Indonesia, Menag Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan bahwa sampai kemarin hilal masih belum tampak. ”Bahwa dari seluruh wilayah di tanah air kita, hilal berada di bawah ufuk,” tutur dia. Keterangan tersebut diungkap Lukman usai mendengarkan laporan dari seluruh petugas rukyat dari 33 provinsi.

Dari semua petugas itu, tidak satu pun melaporkan sudah melihat hilal kemarin. ”Jadi, tidak ada satu pun yang berhasil melihat hilal,” ujar pejabat biasa dipanggil Lukman itu. Karena itu, dia menyampaikan bahwa bulan Ramadan tahun ini genap menjadi 30 hari. ”Dan 1 Syawal 1440 Hijriah jatuh pada Rabu 5 Juni 2019,” tambahnya. Pakar astronomi dari tim falakihay Kemenag Cecep Nurwendya pun menyampaikan hal serupa.

Cecep menyebutkan bahwa sampai kemarin tidak ada referensi empirik visabilitas atau ketampakan hilal awal Syawal tahun ini yang bisa teramati dari seluruh wilayah Indonesia. ”Semua wilayah Indonesia memiliki ketinggian hilal negatif. Hilal terbenam terlebih dahulu di banding matahari,” terang dia. Namun demikian, secara hisab awal Syawal memang sudah ketahuan. Tanggalnya sesuai yang sudah diumumkan oleh Lukman.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Yusnar Yusuf menuturkan, langkah-langkah yang diambil oleh Kemenag untuk menentukan satu Syawal sudah sesuai dengan ketentuan. Karena itu, 1 Syawal 1440 Hijriah besok juga disepakati bersama. Masyarakat Indonesia, tidak perlu lagi meragukan keputusan itu. ”Yang dinyatakan Menag, 1 Sywal jatuh pada 5 Juni 2019,” jelasnya.

Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher pun menyabut baik keputusan yang sudah diambil oleh Kementerian Agama. Dia menyebutkan bahwa hisap maupun rukyat menuntun pemerintah untuk menentukan 1 Syawal 1440 Hijriah esok hari. Selanjutnya, dia beraharap besar pemerintah bersama MUI segera menuntaskan kajian kalender hijriah bersama. Tujuannya tidak lain supaya ke depan tidak ada lagi perbedaan penanggalan kalender hijriah.

”DPR terus mendorong pemerintah untuk terus mengkaji, membuat kalender bersama,” ungkap Ali. Kajian terkait hal itu, diakui menag bukan barang baru. Pihaknya sudah jauh hari mengambil langkah-langkah strategis. ”Berbagai macam pertemuan sudah sering kita lakukan dalam rangka mencari titik temu bagaimana kita bisa menyepakati kriteria yang disepakati bersama sehingga kita punya acuan yang sama,” bebernya.

Menurut dia, penyatuan kalender hijriah penting. Namun, juga bukan perkara mudah. Sebab mensyaratkan adanya dua hal yang harus disepakati oleh semua pihak. ”Pertama kesepakatan kriteria pada posisi hilal seperti apa. Yang kita bersepakat hilal itu ada atau tidak ada atau tidak bisa dilihat,” jelasnya. ”Kedua kesepakatan siapa pihak yang dapat otoritas untuk melakukan isbat,” lanjut dia.

Lukman berharap, ikhtiar melalui kajian kalender hijriah bersama segera tuntas. Dalam waktu dekat, dia menyatakan bahwa MU bersama sejumlah ahli dan pakar akan melaksanakan kajian ilmiah lagi untuk mewujudkan hal itu. ”Mudah-mudahan kita bisa bersepakat berapa sebenarnya kriteria hilal yang bisa dilihat,” imbuhnya. Dengan begitu, keinginan untuk tidak ada lagi perbedaan dalam penanggalan bulan hijriah akan terwujud.

Serupa degan pemerintah, para perukyat dari Lajnah Falakiyah PBNU dan pengurus cabang di 99 titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia melaporkan bahwa tidak bisa melihat hilal. Ketua PBNU Robikin Emhas menyatakan, sesuai perhitungan (hisab), posisi hilal (bulan baru) berada di titik 1 derajat.

Posisi itu berada jauh di bawah posisi imkanur rukyat atau batas terendah bis dilihatnya Hilal. Maka dari itu, PBNU mengeluarkan ikhbar resmi bahwa umur bulan Ramadhan tahun 1440 H adalah 30 hari atau dikenal dengan istilah Istikmal. Sehingga hari ini masih bulan Ramadan. (syn/tau)

Berita Lainnya

Waspada Investasi Ilegal Modus Perkebunan dan Penanaman Pohon

JAKARTA– Satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Penghimpunan Dana Masyarakat dan Pengelolaan ...

error: Content is protected !!