Sabtu , 29 Februari 2020
Home / Metropolis / Tausiyah Surga Dalam Topi

Tausiyah Surga Dalam Topi

Oleh: Habib Abdurahman Al-Kaf

BENGKULU – Alkisah, Abu Nawas berjalan di tengah pasar, sambil melihat ke dalam topinya, lalu tersenyum bahagia. Orang-orangpun heran, lalu bertanya. “Wahai Abu Nawas, apa gerangan yang engkau lihat ke dalam topimu dan membuatmu  tersenyum bahagia?”

“Aku sedang melihat surga yang dihiasi barisan bidadari di dalam topiku ini,” kata Abu Nawas dengan ekspresi meyakinkan. “Coba aku lihat?” kata salah seorang yang penasaran melihat tingkah Abu Nawas.

Namun Abu Nawas menerangkan, hanya orang beriman dan saleh saja, yang bisa melihat surga dengan bidadarinya di topinya itu. Orang itupun segera melihat ke dalam topi, lalu sejenak menatap ke arah Abu Nawas, kemudian menengok ke orang di sekelilingnya. “Betul kamu Abu Nawas,” kata orang itu berteriak.

Orang-orangpun heboh ingin menyaksikan surga dan bidadari di dalam topi Abu Nawas. Dari sekian banyak yang melihat ke dalam topi, ada yang melihat surga dan bidadari namun ada juga yang tidak bisa melihat apa-apa. Mereka yang tidak melihat,  berkesimpulan Abu Nawas telah melakukan kebohongan.

Mereka pun melaporkan Abu Nawas ke Raja, dengan tuduhan telah menebarkan kebohongan di tengah masyarakat (Hoax). Akhirnya, Abu Nawas dipanggil menghadap Raja untk diadili. Raja bertanya prihal topi itu dan dijawab dengan keterangan yang sama oleh Abu Nawas.

“Baiklah, kalau begitu saya mau menyaksikannya sendiri,” kata Raja. Tentu saja Raja tidak melihat surga apalagi bidadari di alam topi Abu Nawas. Tapi Raja lalu berpikir, kalau mengatakan tidak melihat surga dan bidadari, berarti dia akan dibilang tidak  beriman dan tidak saleh. Tentu itu bisa reputasinya sebagai Raja.

Maka, Raja itu pun berteriak girang: “Engkau benar Abu Nawas!!!….aku menyaksikan surga dan bidadari di dalam topimu. Rakyat yang menyaksikan reaksi Rajanya itu, lalu diam seribu bahasa. Mereka takut berbeda pendapat dengan Raja. Akhirnya, konspirasi kebohongan yang ditebar o Abu Nawas, mendapat legitimasi dari Raja. Boleh jadi dalam hati Abu Nawas, tertawa geli sambil bergumam, beginilah akibatnya kalau ketakutan sudah menenggelamkan kejujuran, maka kebohongan pun akan merajalela.

Ketika keberanian berkata jujur lenyap,  ketakutanlah yang menguasai manusia, ketakutan telah menenggelamkan kejujuran, maka kebohongan akan melenggang sebagai sesuatu yang benar. Ketakutan untuk berbicara jujur.

Kecerdikan konspirasi (kebohongan) opini publik Abu Nawas, telah menumbangkan kebenaran dan kejujuran yang dipercaya masyarakat luas. (iks)

Berita Lainnya

Bantuan PKH Kota Bengkulu Capai 41 miliar

BENGKULU – bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) tahun 2020 mencapai Rp 41 miliar. Bantuan itu …