Senin , 16 September 2019
Home / Breaking News / Belum Ke Bengkulu Kalau, Belum Minum Kopi Bengkulu

Belum Ke Bengkulu Kalau, Belum Minum Kopi Bengkulu

KOPI: Salah satu kekayaan bumi Bengkulu adalah Kopi yang diusahakan oleh masyarakat. Terlihat Gubernur Bengkulu Dr. Rohidin Mersyah saat berada di Kampung Kopi, Kepahiang memberikan semangat pada para petani. (foto: ist/rb)

SALAH satu distinasi wisata kuliner di Bengkulu adalah kopi Bengkulu. Kopi jenis Robusta ini hidup di dataran tinggi Bengkulu.Aroma dan rasa yang khas membuat kopi bengkulu saat ini sudah mulai  terkenal hingga ke mancanegara.

Jika anda saat ini tengah menikmati liburan di Bengkulu, atau tengah menjalani tugas dinas di Bengkulu, jangan lupa untuk singgah ke kedai kopi dan menikmati cita rasa khas kopi Bengkulu. Saat anda disuguhkan kopi panas, wanginya akan langsung mencuri hidung anda. Saat diseruputpun rasanya sangat kuat, khas kopi Robusta. Tapi jangan takut, kopi Bengkulu nyaman bagi lambung anda. Jadi sangat soft untuk dinikmati memanjakan selera lidah anda.

Dilansir dari buku profil Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, ada sekitar 520.404 hektare (ha)  lahan perkebunan rakyat di Provinsi Bengkulu. Diantaranya perkebunan kopi Robusta seluas 80.905 ha dengan produksi 54.367 ton. Ada sebanyak 62.372 kepala keluarga (KK) yang mengolah jenis kopi tersebut.  Selain kopi Robusta, di Bengkulu juga dibudidayakan kopi jenis Arabica dengan luas lahan 1.337 ha. Produksinya mencapai 678 ton yang dikelola oleh 1.708 KK.

“Aroma dan citarasa khas itu, dari kebun rakyat. Kepahiang merupakan salah satu kabupaten penghasil kopi terbaik di Provinsi Bengkulu. Ada puluhan ribu hektar, kebun kopi yang sudah turun temurun diolah oleh masyarakat,” ujar Gubernur Bengkulu Dr. H. Rohidin Mersyah yang saat ini gencar mempromosikan kopi Bengkulu.

Berdasarkan data produksi kopi perkebunan rakyat, menurut Rohidin,masih rendah jika dikalkulasi dengan luas lahan. Selain itu, banyak kebun rakyat statusnya belum jelas. Sehingga mereka terbatas melakukan pengembangan untuk peningkatan produksi. “Kita selaku pemerintah bersinergi, baik pemkab maupun pemprov terus berupaya menjadikan komoditas unggulan ini mempunyai nilai ekonomis yang terus naik, sehingga memberikan dampak kesejahteraan yang cukup signifikan,” bebernya.

Untuk meningkatkan produksi dan nilai kopi Bengkulu, maka perlu dilakukan edukasi dan pemberdayaan pada petani. Termasuk pembinaan hingga pengolahan pascapanen. Kemudian promosi serta perluasan pasar. Vietnam sebagai penghasil kopi terbesar kedua setelah Brazil, dahulu belajar perkopian dari Indonesia. “Kita miliki tanah yang subur, dan petani yang ulet. Bukan tidak mungkin, Kopi Bengkulu akan berjaya,” tuturnya opitimis.

“Tak lupa soal lahan yang telah dimanfaatkan masyarakat, melalui perhutanan sosial, insya Allah akan memperjelas statusnya. Agar pemanfaatannya bisa maksimal juga tanpa was-was,” sambungnya.

Ditambahkan Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Ir. Ricky Gunarwan, kopi Bengkulu merupakan salah satu produk unggulan pertanian. Yang promosinya terus gencar dilakukan ke beberapa daerah, bahkan disiapkan go internasional. Berbagai cara dilakukan Pemprov Bengkulu dalam hal ini Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu untuk mempromosikan kopi asli Bengkulu ini.

Dimana kopi asli Bengkulu yang sudah terkenal khas kenikmatannya itu, ada terdapat di beberapa kabupaten. Sebut saja kopi Robusta yang banyak diproduksi di Rejang Lebong maupun Kepahiang. Dengan ciri khas rasa yang berbeda dibandingkan dengan kopi dari daerah lainnya, kopi Bengkulu diharapkan bisa dikenal lebih luas oleh seluruh masyarakat Indonesia.

“Kopi Bengkulu yang mempunyai kualitas dan ciri khas rasa yang berbeda dari kopi yang lainnya, sudah kita kenalkan di Jakarya. Disambut antusias oleh Gubernur DKI Jakarta yang akan ditindaklanjuti dengan kerjasama,” kata Ricky.

Sementara itu akademisi Hermen Malik optimis kopi Bengkulu bisa go Internasional. Mengingat kopi di Bengkulu memiliki keistimewaan, dan karakter tersendiri serta banyak potensi tempat penghasil kopi yang kondisi geografis daerahnya cocok untuk tanaman kopi. Namun yang masih harus dibenahi saat ini, yaitu standarisasi pengolahan, branding geografis, hingga penggalian branding budaya.

“Kita belum ada standar jadi kalau ada misalnya 8 pengolah kopi maka kita punya 8 rasa juga kadang-kadang lebih. Ini perlu distandarisasi supaya orang bisa pesan sekaligus dari beberapa macam ini bisa disatukan,” jelasnya.

Begitu juga penggalian branding budaya untuk peningkatan nilai kopi, kata Hermen, bila minum kopi digabungkan dengan budaya maka nilainya akan lebih tinggi. Seperti halnya penyajian minuman teh di Jepang yang memadukan budaya tradisional Jepang. “Budaya juga penting, di Jepang kalau minum teh kalau biasa saja harganya cuma 4 Yen. Begitu disajikan dengan kimono harganya 80-100 Yen jenisnya sama. Kenapa tidak, coba kita menyajikan kopi pakai Sarapal Anam sehingga kopi kita harganya lebih tinggi,” demikian Hermen(red/diskominfo)

Berita Lainnya

Helmi Berpasangan dengan Hijazi di Pilgub, Tergantung Takdir Allah

CURUP- Sabtu  (14/9), Walikota Bengkulu, H. Helmi Hasan, berkunjung ke Kabupaten Rejang Lebong. Kunjungan tersebut ...

error: Content is protected !!