Senin , 16 September 2019
Home / Breaking News / Bengkulu Bergerak Maju

Bengkulu Bergerak Maju

TANDATANGAN: Gubernur Bengkulu Dr. Rohidin Mersyah menyaksikan penandatanganan perjanjian pengusahaan jalan tol (PPJT). (foto: ist/rb)

SEBAGAI provinsi yang ke 26, Bengkulu terus bergerak maju dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Di bawah kepemimpinan Rohidin, Bengkulu mulai menunjukkan eksistensi perekonomian di tingkat Sumatera. Ada beberapa proyek besar yang saat ini tengah berjalan untuk memajukan provinsi Bengkulu, sebagai penyangga ekonomi Sumatera.

Salah satunya adalah pengembangan Bandara Fatmawati Soekarno sebagai bandara bertaraf internasional. Bandara ini akan dikelola oleh PT Angkasa Pura II, yang sudah menyiapkan ratusan miliar anggaran untuk pengembangan. Berbagai fasilitas sudah disiapkan untuk perwujudan bandara bertaraf internasional tersebut. Salah satunya saat ini sudah selesai dibangun terminal baru untuk para penumpang. Tentu selain untuk peningkatan fasilitas bandara, ini akan membuat penumpang bertambah nyaman.

Gubernur Bengkulu, Dr. H. Rohidin Mersyah, MMA mengatakan serah terima pengelolaan Bandara Fatmawati Soekarno ke PT Angkasa Pura II  ditargetkan Juli ini. Serentak dengan serah terima pengelolaan Bandara Lampung dan Sentani.

“Mudah-mudahan Juli ini. Itu hasil koordinasi saya dengan dengan pak M Awaludin (Direktur PT Angkasa Pura II). Sepertinya serentak dengan bandara Lampung dan Sentani,” ujar Rohidin menanggapi perkembangan kerja sama pengelolaan bandara Fatmawati Soekarno dengan PT AP II.

Setelah dikelola oleh PT AP II, sambung Rohidin, nantinya akan ada pengembangan Bandara Fatmawati Soekarno mulai dari perluasan bandara, penambahan fasilitas hingga penambahan rute penerbangan. Baik penerbangan domestik maupun luar negeri. PT AP II sendiri menyiapkan total anggaran Rp 434 miliar untuk pengembangan bandara Fatmawati Soekarno. Tahun 2019 menurut pihak PT AP II disiapkan Rp 70 miliar untuk pengembangan bandara.

“Kita berharap agar pelaksanaan pengembangan bandara Fatmawati oleh PT Angkasa Pura II dapat sesegera mungkin,” harapnya.

Selain mengembangkan Bandara Fatmawati Soekarno untuk konektivitas, komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu mendongkrak perekonomian Bengkulu juga dari sektor kemaritiman. Yaitu, pengembangan Pelabuhan Pulau Baai menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pemprov Bengkulu pada tataran sebagai pemegang administrasi wilayah siap meningkatkan semua bentuk kerjasama produktif bersama para investor.

“Pelindo masih pada posisi membuka diri untuk para calon investor. Bersama-sama mengembangkan investasi di kawasan Pulau Baai,” kata Rohidin.

Terkait kelayakan pengembangan KEK Pulau Baai saat ini telah pada tahap penyelesaian pihak konsultan. Dalam waktu dekat segera didaftarkan ke Sekretariat Dewan KEK. Direktur Komersial PT Pelindo II Arif Suhartono menyatakan kesanggupan pihaknya mendorong pengembangan Pelabuhan Pulau Baai ini.

Sehingga perekonomian Bengkulu melalui sektor laut semakin maju dan berkembang. “Prinsipnya Pelindo II itu sangat konsen untuk pengembangan wilayah khususnya Pelabuhan Pulau Baai,” demikian Arif.

Ketertarikan para Investor untuk menanamkan investasinya ke Provinsi Bengkulu dewasa ini makin meningkat, khususnya rencana investasi di lokasi KEK. Pelabuhan Pulai Baai Bengkulu. Salah satunya yang akan dilaksanakan Sudevam Group asal India yang bergerak dalam bidang pengolahan minyak sawit menjadi minyak goreng serta olahan turunan lainnya.

Menurut Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, rencana penetapan Pelabuhan Pulau Baai menjadi KEK ini jelas sangat menarik para investor. “Ini membuka ruang bahwa KEK Bengkulu itu menjanjikan sebuah investasi. Dan Alhamdulillah Sudevam Group, mereka mencanangkan investasi pengolahan CPO di Kawasan Pulau Baai, lahan tersedia, infrastruktur siap, mudah-mudahan ini terealisasi dalam waktu dekat,” jelas Rohidin Mersyah.

Rohidin Mersyah menjelaskan, tentunya Pemda Provinsi menyambut baik adanya Pabrik Pengolahan CPO ini karena jelas untuk meningkatkan PAD. Disisi lain terkait bakal tingginya kebutuhan bahan CPO jika pabrik ini berjalan ditambah dioperasionalnya drone breaking Pulau Baai, maka jelas perlu adanya upgrade perkebunan.“Ketika kebutuhan CPO semakin besar yang akan diupgrade adalah kebun rakyat. Bengkulu ini punya salah satu karakteristik, kebun sawit kita itu 60 persen merupakan kebun rakyat. Terkait brand minyak goreng nantinya jelas perlu adanya kekhasan Bumi Rafflesia yang akan kita minta kepada pihak investor,” pungkasnya.

Dijelaskan Owner Sudevam Group Lalit Kumar, kebutuhah minyak goreng Provinsi Bengkulu secara keseluruhan mencapai 4 hingga 5 ribu ton per hari. Dengan ketersediaan atau potensi CPO di Bengkulu sebesar 2 juta ton per tahun, hal ini jelas memungkinkan minim bahan baku. Oleh karenanya perlu adanya peningkatan produksi.

“Dengan potensi yang ada kami memutuskan membangun pabrik dengan kapasitas produksi 220 ton pertahun atau 600 ton per hari. Dengan kondisi tidak adanya pengolahan CPO di Bengkulu, apakah tidak ada kerugian PAD. Dan ini salah satu alasan kami sangat tertarik berinvestasi disini,” terang Lalit Kumar.  Sementara itu, menindaklanjuti percepatan pembangunan investasi pengolahan CPO ini, OPD teknis terkait bersama Pelindo II Bengkulu diminta untuk mempersiapkan segala hal. (red/dishubkominfo)

Berita Lainnya

Helmi Berpasangan dengan Hijazi di Pilgub, Tergantung Takdir Allah

CURUP- Sabtu  (14/9), Walikota Bengkulu, H. Helmi Hasan, berkunjung ke Kabupaten Rejang Lebong. Kunjungan tersebut ...

error: Content is protected !!