Senin , 16 September 2019
Home / Daerah / Kepahiang / Sekda: Sakit PDAM Dari yang Lama

Sekda: Sakit PDAM Dari yang Lama

Zamzami Zubir

KEPAHIANG – Menanggapi keluhan Direktur PDAM Tirta Alami Kepahiang, Sudarmin, SH bahwa kondisi semerawutnya manajemen PDAM ini merupakan warisan dari manajemen sebelumnya, ditanggapi Sekda Kepahiang Zamzami Zubir, SE, MM. Menurut Sekda, berdasarkan hasil audit yang dilakukan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Bengkulu, memang PDAM Tirta Alami Kepahiang dinyatakan sakit.

“Hasil audit BPKP memang PDAM ini dinyatakan sakit. Sakit ini merupakan turunan dari manajemen yang lama. Waktu pergantian manajemen di akhir 2017 lalu, diharapkan Pak Darmin (Direktur PDAM, red) ini bisa mengubah kondisi yang ada di PDAM,” ungkap Sekda.

Perubahan yang diharapkan Pemkab Kepahiang terkait kondisi yang dialami PDAM Tirta Alami Kepahiang tersebut, yakni tanpa suntikan dana dari Pemkab. Namun tampaknya tanpa suntikan dana dari Pemkab Kepahiang, manajemen PDAM Tirta Kepahiang saat ini tidak sanggup melakukan perbaikan dan perubahan yang ada.

“Karena dulu salah satu sumber untuk menyehatkan PDAM ini adalah kita menagih tunggakan di pelanggan. Tunggakan di pelanggan berdasarkan inventarisir yang dilakukan beberapa waktu lalu mencapai hampir Rp 2 miliar. Nah ini tidak bisa dikejar oleh manajemen PDAM saat ini,” tegas Sekda.

Sekda juga menegaskan, saat ini Pemkab juga tidak bisa semerta-merta memberikan suntikan dana lagi ke PDAM. Saat ini untuk memberikan suntikan dana harus melalui peraturan daerah (perda), karena suntikan dana ke PDAM sebelumnya ada perdanya, yang telah berakhir tahun 2015 lalu.

“Penyertaan bantuan modal harus ada payung hukumnya. Kalau kita mau support dana lagi ke PDAM, kita harus membuat perda lagi. Saat ini kendala kita untuk membuat perda lagi jika ingin menyuntik dana ke PDAM, DPRD meminta PDAM diaudit terlebih dahulu agar tahu seperti apa hasil dari kinerja selama ini,” beber Sekda.

Di sisi lain, Dewan Pengawas PDAM Tirta Kepahiang, Karmolis, ST yang merupakan mantan Direktur PDAM Tirta Kepahiang ketika dikonfirmasi mengungkapkan, masalah klasik di PDAM itu ada di pelanggan, tunggakan, dan pasokan air yang kurang karena debit air terus menurun. Karena air kurang, banyak daerah layanan yang airnya mati. Sehingga pelanggan banyak yang menunggak, padahal hidup mati PDAM ini tergantung dengan pelanggan.

“Saat ini Pemkab Kepahiang juga sudah berupaya membantu dengan telah melakukan proses tender membangum sumber air baru untuk penambahan pasokan air ke kota Kepahiang, dengan kapasitas 15 liter per detik yang berasal dari anggaran DAK di Dinas PUPR Kepahiang Rp 3,4 miliar,” ungkap Karmolis.

Menurutnya, masalah air ini bermula saat rusaknya jaringan pipa di Dusun Imigrasi Permu, akibat pelebaran jalan kiri kanan yang berdampak pada pecahnya pipa besar PDAM di lokasi pembangunan tersebut, sehingga tambahan pasokan air dari wilayah Tapak Gedung untuk wilayah kota terhenti.

“Kemudian untuk masalah gaji, ini memang sudah lama. Sejak zaman kami pun dulu kekurangan dana untuk membayar gaji, karena banyak tunggakan. Apalagi mayoritas masyarakat kita petani, jadi banyarnya tidak setiap bulan, kadang 3 bulanan, 6 bulanan, bahkan ada yang 1 tahunan. Sudah dicoba beberapa terobosan dengan pembayaran sistem online dan penagihan, namun hasilnya tetap belum maksimal,” beber Karmolis.(sly)

Berita Lainnya

Soal RS Jalur Dua, Dewan Bersuara

KEPAHIANG – Pemkab Rejang Lebong (RL) kembali membangun RS Jalur Dua di Desa Durian Depun ...

error: Content is protected !!