Minggu , 25 Agustus 2019
Home / Metropolis / Pagar Disegel, Satpol PP Datangi SDN 62

Pagar Disegel, Satpol PP Datangi SDN 62

BERKUMPUL: Sejumlah anggota Satpol PP Kota Bengkulu tadi malam mendatangi SDN 62 Kota Bengkulu untuk membongkar segel yang dipasang ahli waris.(foto: yudi/rb)

BENGKULU – Tindakan ahli waris yang menyegel pagar SDN 62 Sawah Lebar menggunakan seng, menarik perhatian Pemkot Bengkulu. Minggu malam (14/7) sekitar 40 anggota Satpol PP Kota Bengkulu berencana membuka penyegelan tersebut. Pertimbangannya, karena Senin (15/7), anak-anak sekolah akan mulai belajar lagi seperti biasanya, usai menjalani masa liburan panjang.

Pantauan RB tadi malam, sejumlah anggota Satpol PP Kota Bengkulu berkumpul di depan Stadion Semarak Sawah Lebar, sekitar pukul 19.00 WIB. Sekitar 30 menit kemudian, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Bengkulu, Rosmayetti, MM terlihat tiba di depan stadion.

Menjelang pukul 21.30 WIB, rombongan pun bergerak menuju SDN 62 Kota Bengkulu. Sesampainya di lokasi, pembongkaran segel pagar SD tersebut belum langsung dilaksanakan. Melihat banyaknya Satpol PP yang datang menarik perhatian warga skeitar yang ikut mendekat. Hingga pukul 22.00 WIB tadi malam, rencana pembukaan segel pagar sekolah belum juga dilaksanakan.

Sementara itu, Kasatpol PP, Mitrul Ajemi, S.Sos maupun Kadisdikbud Kota, Rosmayetti belum mau memberikan keterangan terkait rencana pembongkaran segel SDN 62 tersebut.  “Nanti saja ya,” ujar Rosmayetti saat dikonfirmasi.

Sekadar mengingatkan, sebelumnya pihak ahli waris merasa kecewa dengan sikap Pemkot Bengkulu, yang tidak mau membayar lunas sekaligus, ganti rugi lahan SDN 62 Kota Bengkulu. Dimana dalam putusan kasasi Mahkamah Agung (MA), Pemkot diharuskan membayar ganti rugi, atas lahan milik Atiah di Jalan Dempo Gang Rukun Kelurahan Sawah Lebar yang diatasnya sudah berdiri bangunan SDN 62.

Pemkot harus membayar Rp 3,4 miliar. Namun, Pemkot menolak membayar sekaligus gantirugi tersebut dengan alasan anggaran minim. Pemkot hanya menganggarkan Rp 1 miliar di APBD 2019 untuk menyicil biaya ganti rugi itu. Tindakan itu ditolak mentah-mentah oleh ahli waris, hingga aksi penyegelan sekolah kembali terulang, Sabtu (13/7) siang.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Bengkulu, Rena Anggraini, SP menilai, persoalan sengketa lahan ganti rugi SDN 62 Kota Bengkulu sudah harus dituntaskan tahun ini. Ia meminta, Pemkot untuk bijak dalam hal ini lantaran  hasil perhitungan nilai harga (ganti rugi lahan) yang sudah keluar sejak lama. Maka Pemkot harus cepat segera menindaklanjuti segera.

“Pemkot jangan terkesan lamban dalam penanganan masalah lahan tersebut. Sebab masalah ini sudah lama, dan sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Jangan sejumlah murid dan para guru terus terkena imbasnya dari polemik sengketa lahan tersebut,” kritik Rena

Menurut Rena, ketika persoalan anggaran pembayaran yang sudah dianggarkan sebesar Rp. 1 miliar tersebut kurang, maka pemkot juga harus menambah usulan tambahan dalam APBD Perubahan nanti. “Yang jelas persoalan kekurangan anggaran ini nanti akan kita bahas bersama. Namun pemkot harus mengusulkan anggaran tambahan tersebut, agar dibahas tim Banggar DPRD kota. Apalagi saat ini memasuki pembahasan rancangan APBD perubahan,” terangnya.

Selain itu lanjut Rena, apabila masalah sengketa lahan SDN 62 tersebut masih dibiarkan lamban. Maka dampaknya akan kembali terjadi proses belajar dan mengajar akan terus terganggu. “Apalagi kita tidak inginkan jangan sampai mental dan psikologis anak menjadi terganggu, gara-gara persoalan sengketa lahan ini tak kunjung tuntas. Karena anak murid tidak tahu sebab menyebabnya kenapa sekolah mereka tersebut tak kunjung tuntas tersebut,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Dra. Rosmayetti, MM menyayangkan, aksi penyelan SDN 62 oleh pihak ahli waris. Menurutnya, hari perdana anak masuk sekolah Senin (15/7) tentu akan berdampak terganggunya aktivitas proses belajar dan mengajar sekolah.

“Besok (hari ini) kita akan kumpulkan dulu sejumlah wali murid siswa-siswi SDN 62 terkait memberikan arahan soal penyegelan sekolah. Jadi untuk sementara besok (hari ini) proses belajar kita kembalikan kepada orangtua siswa. Apalagi hari pertama sekolah belum aktif proses belajar menjar. Karena kita sembarih menunggu proses negosiasi pemerintah dengan pihak ahli waris tuntas,” paparnya.

Terpisah sejumlah orangtua siswa SDN 62 Kota Bengkulu juga menyayangkan persoalan sengketa lahan SDN 62 tak kunjung tuntas dari walikota Helmi Hasan menjabat kepemimpinan dua periode. “Pak walikota tolong anak-anak kami ini hanya butuh sekolah saja. Tolong tuntaskan masalah ini secepatnya pak. Kasian anak-anak proses belajarnya terganggu karena sekolah disegel,” ketus Nuryanti salahsatu wali murid SDN 62 Kota Bengkulu. (new)

Berita Lainnya

Buruh Abadi Makmur Tuntut Gaji UMP

BENGKULU – Sebanyak 50 buruh CV. Abadi Makmur, perusahaan yang bergerak di bidang impor kayu ...

error: Content is protected !!