Sabtu , 24 Agustus 2019
Home / Metropolis / Seleksi GSMS Dinilai Tak Adil

Seleksi GSMS Dinilai Tak Adil

Martina Ningsih

BENGKULU – Tahun ini, sebanyak 21 sekolah di Kota Bengkulu menerima program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). Dalam program ini, seniman yang terpilih akan mengajarkan seni saat jam ekstrakurikuler di setiap sekolah.

Namun, dalam proses penyeleksian, Asosiasi Penggiat Seni Bengkulu (APSB) menilai adanya ketidakadilan dan penyeleksian yang dilakukan secara rutin. Oleh karena itu, sekitar 20 seniman yang tergabung dalam APSB langsung mendatangi kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Bengkulu, Senin (15/7) untuk meminta kejelasan secara langsung.

Perwakilan seniman, Sandi Aprianto menjelaskan, aksi yang mereka lakukan terkait dengan sistem rekrutmen dari GSMS. Ia menilai adanya indikasi proses penyeleksian yang tidak bersih. Padahal pendaftaran dilakukan secara online, namun mereka bisa menentukan kualifikasi seniman tanpa adanya pemanggilan langsung.

Hal itu didasarkan oleh seorang seniman harus dilihat secara praktik dan teori, bukan dengan asas penunjukan saja. Pihaknya menuntut agar hasil penyeleksian tersebut ditunda sementara dan dilakukan penyeleksian ulang. Namun penyeleksian ulang harus dilakukan secara terbuka dengan sistem penyeleksian yang jelas.

Ia mengatakan, pihaknya tidak akan melakukan aksi lebih lanjut, namun apabila tidak ada tanggapan dan kejelasan dari pihak terkait barulah aksi akan dilakukan. “Kami menginginkan mereka (Dikbud, red) secara terbuka menjelaskan bagaimana sistem penyeleksiannya. Jangan hanya unsur kedekatan dan segala macamnya. Kami meminta adanya penyeleksian ulang dengan sistem yang jelas,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Dikbud Kota Bengkulu, Dra. Martina Ningsih M.Pd menuturkan, akar permasalahan tersebut adalah para seniman tersebut mempertanyakan sistem penyeleksian untuk GSMS. Ia mengaku pihaknya sudah menjelaskan secara rinci. “Namun para seniman masih meragukan penilaian yang dilakukan,” katanya.

Dijelaskan, kuota GSMS tahun ini adalah 21 sekolah yang terdiri dari 12 Sekolah Dasar (SD) dan 9 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dari kuota tersebut dibagi menjadi beberapa seni yakni seni tari sebanyak 5 kuota, seni musik sebanyak 6 kuota, seni rupa sebanyak 5 kuota serta seni teater dan sastra sebanyak 5 kuota. Dari jumlah tersebut kuota memang sudah ditetapkan, namun para seniman tersebut meminta adanya penambahan kuota sementara kuotanya memang tidak mencukupi.

“Jadi perlu penyeimbangan, semua seni harus hidup. Itulah mengapa tahun ini kuotanya kita bagi secara adil, namun mereka meragukan sistem penyeleksiannya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, para seniman yang terpilih dapat mengaplikasikan seninya sebaik mungkin untuk membantu mengajar para siswa di sekolah. Ia juga menjelaskan bahwa seni tidak hanya bertumpu menjadi pengajar atau yang terlibat secara langsung di dalam program tersebut.

Menurutnya, masih banyak program lain yang sedang pihaknya rancang untuk menampung semua seniman. Pihaknya akan membuka ruang seluas-luasnya untuk penggiat seni agar dapat mengaplikasikan seninya dengan baik.

“Kami tidak menutup ruang kepada mereka, kecuali bagi memang sanggar yang belum terdaftar. Selain itu kami akan membuat program untuk menampung para penggiat seni lainnya,” tutupnya. (cup)

Berita Lainnya

Buruh Abadi Makmur Tuntut Gaji UMP

BENGKULU – Sebanyak 50 buruh CV. Abadi Makmur, perusahaan yang bergerak di bidang impor kayu ...

error: Content is protected !!