Jumat , 20 September 2019
Home / Probis / Menuju Making Indonesia 4.0

Menuju Making Indonesia 4.0

DENGARKAN: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Presiden Direktur PT Toyota-Astra Motor (TAM) Yoshihiro Nakata (ketiga kanan), Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono (kedua kanan) dan Deputi TIEM BPPT Eniya Dewi (kanan) foto disamping i-Road, kendaraan listrik Toyota.

JAKARTA – Pemerintah Indonesia telah menetapkan industri otomotif sebagai salah satu sektor andalan dalam roadmap Making Indonesia 4.0. Untuk ini, ditargetkan bahwa pada tahun 2030 Indonesia dapat menjadi basis produksi kendaraan elektrifikasi (Electrified Vehicle) untuk pasar domestik maupun ekspor bersama dengan kendaraan bermotor dengan mesin bakar internal (Internal Combustion Engine – ICE) yang saat ini sudah berkembang.

Target ini tentunya tidak hanya akan menyokong pengembangan industri otomotif nasional, namun juga mendukung aktif upaya kemandirian energi nasional. Menyambut Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan Penyelenggaraan yang diterbitkan pada 15 Agustus 2019 lalu, rangkaian kegiatan Pameran, Seminar, serta Product Presentation mengenai kendaraan elektrifikasi bertajuk Indonesia Electric Motor Show (IEMS) yang berlangsung pada tanggal 4-5 September 2019 di Balai Kartini, Jakarta.

Pameran itu merupakan salah satu upaya untuk memulai pengembangan kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Dalam pameran ini, produsen otomotif, termasuk Toyota Indonesia menampilkan beragam pilihan kendaraan elektrifikasi yang dapat menjadi pilihan terbaik konsumen.

Toyota Indonesia melalui keikutsertaannya dalam IEMS menegaskan komitmen perusahaan untuk turut berperan aktif dalam popularisasi serta pengembangan industri kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Toyota memiliki pilihan teknologi elektrifikasi terlengkap menampilkan 4 jenis teknologi dalam pameran ini yaitu: C-HR Hybrid Electric Vehicle (HEV), Prius Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), i-ROAD Battery Electric Vehicle (BEV), dan Mirai Fuel-Cell Electric Vehicle (FCEV).

“Toyota akan terus berupaya untuk menghadirkan teknologi kendaraan elektrifikasi yang sesuai dengan kebutuhan konsumen di setiap negara termasuk Indonesia. Tidak hanya itu, kami juga memiliki perhatian yang tinggi untuk dapat memberikan sumbangsih dalam pengembangan industri kendaraan elektrifikasi termasuk di dalamnya industri rantai pasok. Sehingga mampu memenuhi permintaan pasar domestik serta berpotensi untuk merambah pasar ekspor karena tren global saat ini adalah menuju kendaraan rendah emisi,” ungkap Warih Andang Tjahjono, Presiden Direktur PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia di sela-sela acara.

Toyota telah memperkenalkan Prius sebagai model HEV perdana yang mengaspal di pasar domestik pada tahun 2009. Selain Prius, juga tersedia ragam pilihan kendaraan berteknologi hibrida di Indonesia, yaitu: Camry, Alphard serta C-HR yang baru saja diluncurkan pada awal tahun 2019 ini. Tidak hanya teknologi kendaraan elektrifikasi, pilihan teknologi flexi engine yang dapat mengakomodasi bahan bakar berbasis nabati/bio. Seperti biodiesel dan etanol juga tersedia, bahkan ethanol engine telah diekspor utuh sejak tahun 2012 ke Argentina.

Ragam pilihan teknologi kendaraan ramah lingkungan yang tercakup dalam elektrifikasi dan flexy engine diperlukan mengingat kebutuhan masing-masing konsumen berbeda sehingga dapat mendukung populasi penggunaan yang masif yang nantinya akan memberikan manfaat yang maksimal.

President Director Toyota-Astra Motor, Yoshihiro Nakata, menyebutkan Toyota secara aktif menyambut baik upaya Pemerintah Indonesia dalam akselerasi penerapan teknologi maju. “Memasuki tahun ke-10 dari teknologi elektrifikasi Toyota yang dipasarkan di Indonesia, kami sangat excited bahwa Pemerintah Indonesia mempunyai perhatian serius pada kendaraan elektrifikasi guna menjaga lingkungan yang lebih baik di masa depan,” ujar Nakata.

Kendaraan bermotor listrik, memberikan benefit seperti mengurangi emisi CO2 dan di saat yang sama juga mengurangi ketergantungan pada konsumsi bahan bakar. Namun, juga ada beberapa kekhawatiran publik terkait harga yang relatif tidak murah, kesiapan infrastruktur di berbagai daerah, serta kemudahan penggunaan seperti charging yang cepat.

Menurut Nakata, selain menyiapkan produk dan teknologi, maka dibutuhkan juga kesiapan pasar demi tercapainya roadmap pemerintah di tahun 2025 dengan optimal. Salah satu upaya untuk mendukung kesiapan pasar adalah dengan memberikan banyak informasi kepada masyarakat agar tingkat pengetahuan yang baik terhadap kendaraan bermotor listrik, serta penyiapan infrastruktur pendukung dan jaringan layanan, sehingga hal itu dapat mengurangi kekhawatiran publik.(rls)

Berita Lainnya

Beli Pakaian, Promo Diskon 50 Persen

BENGKULU – Matahari Bencoolen Mall (Benmall) masih melanjutkan event Bazar Tabut di Atrium Benmall. Acara ...

error: Content is protected !!