Minggu , 17 November 2019
Home / Daerah / Lebong / Sita 40 Liter Tuak, Penjual Tak Disanksi

Sita 40 Liter Tuak, Penjual Tak Disanksi

DINASEHATI : Pemilik warem yang menjual tuak ini tengah dinasehati Kabid Tibum, Satpol PP Lebong, Andrian Aristiawan, SH dalam operasi yustisi Sabtu malam (7/9). (foto: aris/rb)

PELABAI – Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Lebong, Sabtu malam (7/9) kembali menggelar operasi yustisi dengan sasaran minuman beralkohol atau memabukkan serta pengunjung hiburan malam tak beridentitas. Dalam operasi yang juga melibatkan Polres Lebong itu, Satpol PP menyita 40 liter tuak dari 3 kawasan berbeda. Namun lagi-lagi penjual tuak tak berizin itu hanya diberikan teguran.
Minuman memabukkan racikan tradisional itu diamankan dari warung manisan kawasan eks Terminal Muara Aman, Kelurahan Amen, Kecamatan Amen milik Randi Pramono (39). Termasuk warung manisan di Kelurahan Pasar Muara Aman, Kecamatan Lebong Utara milik Andi (40) dan warung remang di Desa Suka Marga, Kecamatan Amen milik Safrudin (46). Selain itu, petugas Satpol PP juga menjaring 17 pengunjung hiburan malam yang tidak mengantongi kartu Tanda Penduduk (KTP).
‘’Para penjual tuak tak berizin dan pengunjung hiburan malam yang tidak punya KTP belum kami proses tipiring (tindak pidana ringan, red) karena operasi ini masih bersifat peringatan. Katakanlah bentuk sosialisasi,’’ tegas Kabid Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat (Tibum), Dinas Satpol PP Kabupaten Lebong, Andrian Aristiawan, SH yang memimpin operasi.
Khusus penjual tuak yang kembali terjaring, dalam artian mengulangi perbuatannya, Andrian pastikan akan disanksi tipiring dengan ancaman kurangan 6 bulan atau denda Rp 50 juta. Itu sesuai Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Lebong Nomor 5 Tahun 2017 tentang Larangan dan Pengendalian Minuman Tradisional Beralkohol serta Minuman Racikan dan Lem Aica Aibon dan Sejenisnya.
‘’Harapan kami operasi ini dapat menjadi pelajaran bagi penjual minuman beralkohol atau pengusaha hiburan malam agar segera mengurus izin. Tanpa adanya izin, menjual minuman beralkohol adalah illegal, walaupun minuman yang dijual buatan tradisional,’’ terang Andrian.
Terpisah, Anggota DPRD Kabupaten Lebong, Mahdi, S.Sos meminta Satpol PP bersikap tegas. Dalam artian menjerat penjual tuak sesuai dengan aturan Perda yang berlaku. Kalaupun alasannya sosialisasi, dirasanya sudah terlalu lama karena Perda tentang larangan menjual tuak itu sudah diterbutkan Pemkab Lebong sejak 2018. Terlebih, pada umumnya masyarakat sudah paham bahwa menjual minuman beralkohol harus disertai izin.
‘’Jangan terlalu lama sosialisasinya. Kalau terus-terusan penjual tuak itu hanya ditegur saja, dikhawatirkan tidak memberikan efek jera. Bahayanya, penjualan tuak atau minuman beralkohol tanpa izin akan semakin menjamur,’’ tukas Mahdi. (sca)

Berita Lainnya

Baru 228 yang Daftar CPNS di Lebong, 46 Sudah Serah Berkas

PELABAI – Hingga hari ke 6 pendaftaran secara online di situs Sistem Seleksi Calon Aparatur ...

error: Content is protected !!