Rabu , 11 Desember 2019
Home / Metropolis / Bentuk Penyiaran Bengkulu yang Sehat

Bentuk Penyiaran Bengkulu yang Sehat

MATERI: Pemateri memberikan pemahaman tentang penyiaran yang sehat pada tim monitoring dan evaluasi KPID Provinsi Bengkulu, Senin (9/9).(foto: yudi/rb)

BENGKULU – Televisi dan radio  menggunakan frekuensi milik publik, maka konten yang disiarkan harus diawasi. Oleh karena itu, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Bengkulu menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) tim monitoring dan lembaga menyiaran. KPID menekankan agar standar isi siaran yang berisi tentang batasan-batasan, pelarangan, kewajiban, dan pengaturan penyiaran, serta sanksi berdasarkan Pedoman Perilaku Penyiaran yang ditetapkan oleh KPI.

Ketua KPID Provinsi Bengkulu, Muhammad Ratimnuh, SH mengatakan, Bimtek terhadap tim monitoring ini untuk memantapkan lagi fungsi pemantuan dan fungsi monitoring siaran. “Pemantuan dan monitoring sebenarnya bukan pengekangan, namun itu merupakan bentuk batas yang tidak boleh dilanggar untuk menciptakan penyiaran yang sehat,” katanya, Senin (9/9).

Ia berharap, kreasi penyiaran tidak melanggar standar yang sudah ditetapkan di pedoman penyiaran. Ia pun meminta agar penyiar lebih berinovasi tanpa melewati batas standar penyiaran sehat. Adapun standar yang dimaksud adalah sesuai dengan peraturan perundang-undangan, nilai-nilai agama, norma-norma yang berlaku serta diterima masyarakat, kode etik dan standar profesi penyiaran. Untuk itu, tim monitoring harus lebih teliti dan aktif dalam melakukan pemantuan guna menciptakan penyiaran ke arah yang sehat.

“Kita ingin mendorong agar penyiaran itu  ke arah yang sehat, penyiaran yang sehat adalah penyiaran yang tidak melanggar standar yang sudah ditetapkan oleh KPI,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya sudah pernah memberikan teguran terhadap penyiaran yang ada di Provinsi Bengkulu mulai dari siaran radio hingga televisi. Peneguran itu diberikan karena siaran tersebut dinilai tidak sehat karena menampilkan gambar yang seharusnya disensor seperti darah, korban anak dan lainnya.

Selain itu, para pelaku pun ada yang perlu disamarkan dan tidak ditampilkan begitu saja. Tentunya teguran itu bukan merupakan peringatan melainkan sebuah dorongan agar lembaga penyiaran yang ada di Provinsi Bengkulu dapat  memperbaiki siarannya agar lebih berkualitas.

“Ya ada, jumlahnya saya lupa berapa persisnya, yang jelas beberapa yang kita tegur itu siaran di radio dan televise. Teguran itu kita berikan karena menampilkan sesuatu yang tidak layak ditampailkan,” tutupnya. (cup)

Berita Lainnya

Pemprov Bengkulu ‘Jemput Bola’ Terkait Penuntasan Kawasan TWA

BENGKULU– Wakil Gubernur Bengkulu Dedy Ermansyah mengatakan akan segera berkoordinasi ke Kementerian Kehutanan Republik Indonesia ...

error: Content is protected !!