Rabu , 23 Oktober 2019
Home / Berita utama / Pemda Ingin Nyaman, Gandeng Media Terdaftar

Pemda Ingin Nyaman, Gandeng Media Terdaftar

BERSAMA : Direktur Sumeks Group HM Muslimin, SH MH bersama Ketua Dewan Pers, M Nuh, usai melakukan verifikasi faktual terhadap media online di lingkungan Sumeks Group, Kamis (12/9).

PALEMBANG – Di era sekarang, semua orang dengan mudah jadi wartawan. Tak terhitung pula media cetak maupun online yang lahir meski banyak yang tak berizin hingga tidak mampu menjalankan fungsi sesuai aturan.

Ini menjadi salah satu konsentrasi Dewan Pers. Ditegaskan Ketua Dewan Pers, Prof Dr Ir Mohammd Nuh DEA, media resmi harus terdaftar dan mengantongi sertifikat yang dikeluarkan pihaknya. “Kita imbau kepada semua pemda, kalau mau kerja sama, harus dengan media yang resmi. Dengan begitu, pemda nyaman dan aman,” katanya usai turun langsung melakukan verifikasi faktual terhadap media online: Sumeks.co dan Palpres.com, Kamis (12/9).

Kedatangannya didampingi jajaran dari Badan Wakaf dan Bank Mega Syariah. Dijelaskan Nuh, jika pemda mengakomodir media yang tidak resmi, baik cetak maupun online, maka di situ ada potensi penyimpangan. Dan ini, kalau terjadi masalah secara hukum, maka urusannya panjang.

“Saran saya, entah itu dengan media cetak atau online. Pemda kerja samalah dengan yang resmi sehingga semua bisa dipertanggung jawabkan,” tandasnya.

Terhadap media yang tidak terdaftar, susah untuk ditertibkan. “Lah namanya tidak terdaftar, susah nyari yang tidak ada alamatnya. Yang paling penting, partner dari media (pemda dan lembaga lain) yang kita dorong untuk paham. Ini cara yang paling efektif,” imbuh Nuh.

Dewan Pers juga selalu mensosialisasikan media resmi yang terdaftar ke semua instansi terkait, terutama pemda. “Daftar media yang listed kita sebar, itu bisa jadi patokan pemda,” ucapnya. Tahun ini, dia dan jajaran Dewan Pers akan menuntaskan proses verifikasi terhadap sekitar 300 media.

Termasuk mengupdate berapa media yang belum terverifikasi dan terdaftar. Dengan begitu banyaknya jumlah yang harus diverifikasi, Dewan Pers menyadari tak bisa jalan sendiri. Di lapangan, akan kerja sama dengan lembaga yang kredibel. Misalnya perguruan tinggi.

Tak hanya memperhatikan medianya. Nuh juga peduli dengan insan yang berkecimpung di media. Menurut dia, dibalik kemudahan jadi wartawan saat ini, paling penting agar tiap individu yang berkutat di media harus punya kompetensi dan tersertifikasi. “Kita dorong PWI dan organisasi wartawan lain untuk selektif. Siapa yang memenuhi syarat untuk diakomodir ikut uji kompetensi dan lainnya,” tuturnya.

Terkait UKW, Nuh menyatakan akan menyelaraskan aturan yang ada. “Apa memang wartawan harus terdaftar dulu dalam sebuah organisasi pers baru ikut UKW atau tidak. Yang harus kan itu ikut kompetensinya,” ujarnya.

PWI juga akan didorong untuk gelar pelatihan-pelatihan berkelanjutan. Wartawan harus punya bekal pengetahuan yang cukup untuk isu atau informasi yang diliputnya. “Misal, mau liput soal sabu-sabu. Maka harus tahu itu sabu jenis apa, kandungannya, dan lain-lain sehingga tidak hanya menerima dari polisi saja. Hasil liputan juga akan baik,” cetusnya.

Dia juga mengingatkan pentingnya kemerdekaan pers. Untuk itu, insan pers harus punya kompetensi, terlindungi dan kesejahteraannya terjamin. Ini erat kaitannya dengan prospek bisnis sebuah media. “Kalau medianya berkembang baik dan tumbuh, tentu tiga itu bisa terpenuhi,” tambah Nuh.

Terkait verifikasi faktual, Nuh dan staf mengecek langsung fasilitas yang dimiliki Sumeks.co dan Palpres.com. Diantaranya, sekretariat kedua media online, jumlah wartawan yang dimiliki masing-masing hingga penghasilan yang didapat.
Menurutnya, hasil pengecekan itu akan dicocokkan dengan data yang sebelumnya sudah di-submit masing-masing media. “Kalau sudah cocok, ya oke. Tinggal saya teken sertifikatnya,” tandas dia.

Sebelum berkunjung ke kantor Sumeks.co dan Palpres.com, mantan Mendikbud di era SBY ini berikan kuliah umum tentang wakat. Acara itu kerja sama Badan Wakaf lndonesia (BWI) dengan Universitas Sriwijaya (Unsri) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang. Temanya, Badan Wakaf lndonesia Goes to Campus VI Palembang.
Di dua kampus tersebut, Nuh mengajak generasi milenial memajukan wakaf dan menjadikannya sebagai gaya hidup.

Katanya, wakaf adalah instrumen strategis untuk meningkatkan kesejahteraan, kualitas dakwah, dan menjaga kemartabatan.
Dia mencontohkan kebun kurma yang diwakafkan Sayyidina Umar, yang hasilnya digunakan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat miskin dan membutuhkan. Contoh lain, wakaf sumur oleh Sayyidina Usman, dimana sumur itu jadi sumber air minum bagi penduduk Madinah.

Juga wakaf Habib Bugak Aceh berupa tanah dan rumah singgah bagi jemaah haji Aceh. Aset itu sekarang dikelola secara produktif dan menjadi beberapa hotel yang keuntungannya kembali disalurkan kepada jemaah haji asal Aceh.

Bahkan, di Eropa dan Amerika, wakaf dikembangkan untuk membangun dan membiayai perguruan tinggi seperti Harvard University dan Stanford University. Karena itu, dia mengajak generasi milenial untuk memajukan wakaf dan menjadikannya sebagai gaya hidup. “Kita sasar generasi milenial karena mereka calon pemimpin bangsa ini,” tandasnya.(*)

Berita Lainnya

Terima Kasih Nopian Andusti, Selamat Datang Hamka Sabri

BENGKULU– Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengucapkan terima kasih atas pengabdian yang diberikan Nopian Andusti selama ...

error: Content is protected !!