Sabtu , 16 November 2019
Home / Daerah / Curup Pos / Kemarau Bisa Picu Inflasi

Kemarau Bisa Picu Inflasi

RAPAT : Kegiatan Rapat TPID di ruang rapat Sekda Rejang Lebong Senin.(foto: Wanda/rb)

CURUP – Harga cabai hingga saat ini masih diatas angka Rp 50.000 perkilogramnya. Disisi lain, musim kemarau diperkirakan terjadi dalam kurun waktu yang akan panjang, sehingga harus diwaspadai karena bisa menjadi salah satu pemicu terjadinya inflasi. Apalagi musim kemarau bisa menjadi kendala produksi beras petani yang masih banyak mengandalkan sistem tadah hujan. Hal ini terungkap dalam rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Rejang Lebong (RL) di ruang rapat Sekretaris Daerah (Sekda) RL Senin.

Diungkapkan Wakil Ketua TPID Kabupaten RL Rif,at Pasha yang juga assiten Direktur Bank Indonesia Bengkulu usai rapat kemarin, rapat digelar guna membahas beberapa hal penting. Diantaranya soal potensi inflasi kedepannya dan solusi yang akan diambil. Faktor berpotensi memicu inflasi adalah kemarau panjang sehingga bisa menurunnya produktifitas holtikultura di Kabupaten RL.

‘’Sepanjang Juli-Agustus cabai merah kriting mempengaruhi inflasi namun tidak begitu dirasakan kabupaten Rejan Lebong. Karena seperti yang kita ketahui daerah kita penghasil holtikultura dan solusinya mendorong masyarakat melalui dinas terkait untuk bercocok tanam dilahan pekarangan ataupun pada media lain,’’ terang Rif’at.

Menurut Rif,at potensi sebagai pemicu inflasi kedepannya ialah kemarau panjang yang masih dirasakan hingga pertengahan September 2019 ini. ‘’Nah dari sini Bulog juga diminta untuk bisa menyerap produksi beras petani sebanyak-banyaknya. Hal ini dalam rangka pengadaan stok beras di Kabupaten Rejang Lebong serta sembako lainnya,’’ ujar Rif’at.

Ditambahkan Rif’at, permasalahan inflasi juga datang dari sistem distribusi dan manajemen stok yang harus segera dibenahi. Karena itu, perlu dibuat sistem yang bisa memantau ketersedian pangan yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Sehingga meminimalisir terjadinya kemungkinan penyelewengan dan penimbunan yang dapat mempengaruhi harga pasar.

Di samping itu, imbuh Rif’at, dengan sistem yang terpadu, kekurangan stok pangan di daerah dapat segera didistribusikan, agar tidak ada penumpukan di gudang. ‘’Dan ini akan memangkas panjangnya rantai distribusi yang selama ini masih sering terjadi. Serta bisa memberikan jaminan pasar bagi petani dan penggilingan padi. Termasuk data stok valid untuk pengambilan kebijakan yang juga untuk memutuskan mata rantai petani ke tengkulak,’’ demikian Rif’at.(dtk)

Berita Lainnya

Delapan Kandidat Adu Visi Misi

CURUP – Bertempat di Hotel Golden Rich, kemarin delapan calon bupati yang ikut penjaringan dan ...

error: Content is protected !!