Selasa , 12 November 2019
Home / Daerah / Mukomuko / UPTD Tempuh Jalur Hukum

UPTD Tempuh Jalur Hukum

AIR BENDUNGAN: Bupati Mukomuko melihat dari dekat kondisi Debit air Bendungan Manjuto. (foto: peri/rb)

MUKOMUKO – Perebutan pasokan air dari aliran irigasi Bendungan Manjuto makin menjadi. Untuk menekan masalah aliran air irigasi, petani yang sudah mendapat air diharapkan tidak membuang airnya sia-sia.

Ini ditegaskan Kepala UPTD Pengairan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Mukomuko, Bustari, ST, M.Si, kepada RB, Rabu (18/9).

“Sudah banyak konflik soal air yang kita tangani. Apalagi sampai gunakan senjata tajam. Mari bersama-sama kita hemat air,” ujar Bustari.

Petani yang sudah selesai membajak sawah agar membagikan air ke petani lain. Tidak langsung buang air begitu saja ke sungai. Terutama pada petani-petani yang sawahnya dekat dan tak jauh dari pintu air irigasi.

“Gunakan air dengan baik demi kepentingan bersama. Jangan mentang-mentang dekat ke pintu air sawahnya, air langsung dibuang ke sungai. Kalau air banyak tidak masalah. Ini air sedikit, sama-sama berebut,” pinta Bustari.

Selain itu ditegaskan Bustari, agar petani tak mengelola pintu air irigasi yang ada. Dinyatakannya, pengelolaan pintu air jadi kewajiban pihaknya. Artinya, pengelolaan pintu air harus sepenuhnya diserahkan ke UPTD Pengairan agar tidak terjadi gejolak sesama petani.

“Ini pintu air sampai di rusak. Sampai ada masyarakat yang ronda menjaga pintu air. Kalau begini pasti akan mengutamakan sawah dia dulu. Serahkan dengan kami agar tidak terjadi konflik,” tegas Bustari.

Bustari memastikan, pihaknya mengelola air dengan seadil-adilnya. Tidak mementingkan kelompok petani tertentu. Jika masih ada petani nekad mengelola pintu air sendiri atau kelompok sendiri, maka pihaknya akan menempuh jalur hukum.

‘’Kalau kami sudah pendekatan secara baik tapi tetap tidak mau, maka dengan berat hati kami lakukan tindakan secara hukum. Ini demi kepentingkan seluruh masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu sekitar 10 hektare tanaman padi di Desa Dusun Baru Pelokan Kecamatan XIV Koto sudah mulai mengalami kekeringan. Padahal padi baru saja ditanam. Ancaman gagal tanaman, karena tanah sawah mulai merekah akibat kekeringan.

Camat XIV Koto, Rolles Tampubolon, SH, mengatakan sudah melihat langsung kondisi di lapangan. Ini sudah dilaporkan ke UPTD Pengairan Dinas PUPR Mukomuko. Dia minta UPTD dapat membuka pintu air irigasi yang mengarah ke persawahan Pelokan.

“Kita sudah laporkan langsung kepada UPTD Pengairan Lubuk Gedang. Kita minta solusi, agar air bisa ngalir ke sawah yang kering itu,” demikian Roles.(hue)

Berita Lainnya

261 Honorer Akan Diajukan SK Gubernur

MUKOMUKO – Sebanyak 261 tenaga honoror di lingkungan SMA dan SMK serta sekolah luar biasa ...

error: Content is protected !!