Senin , 16 Desember 2019
Home / Metropolis / Bendung Konflik Horizontal dari Bumi Rafflesia 

Bendung Konflik Horizontal dari Bumi Rafflesia 

HADIR: Gubernur Rohidin menghadiri kegiatan sosialisasi pencegahan dan penyelesaian konflik horizontal, Minggu (17/11). (foto: mcprov/rb)

BENGKULU – Keberagaman etnis, suku, budaya dan agama merupakan sebuah kekayaan bagi Provinsi Bengkulu. Ini harus dijaga agar tetap utuh karena merupakan modal yang sangat berharga. Ungkapan itu disampaikan Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah dalam acara Sosialisasi Pencegahan dan Penyelesaian Konflik Horizontal Berbasis Etnis, Suku dan Adat Istiadat se- Provinsi Bengkulu, di salah satu hotel Kota Bengkulu, Minggu (17/11).

“Kita yakin betul itulah kekayaan Indonesia yaitu keberagaman yang harus kita jaga. Baik itu keberagaman dari sisi keagamaan maupun keyakinan, etnis suku budaya dan bahasa, semua itu harus menjadi modal kekuatan kita,” tegas Gubernur Rohidin.

Dengan sosialisasi yang melibatkan pemuka agama dan perwakilan dari berbagai etnis dan suku yang ada di Provinsi Bengkulu ini, menurut Rohidin, hal itu dimaksudkan utuk memberdayakan etnis, suku dan pemuka Adat di daerah agar dijadikan media dalam menyelesaikan konflik horizontal.

“Karena kita tidak ingin karena keberagaman yang sesungguhnya merupakan kekayaan suatu bangsa itu menjadi pemicu perpecahan,” ujarnya.

Untuk itu, keberagaman yang ada harus diutamakan dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Agar nilai kebangsaan itu dapat menjadi sebuah kekuatan untuk membangun daerah kita.

“Maka kita harus kapitalisasikan dengan menjaga, kita munculkan nilainya untuk menjadi sebuah kekuatan dan tidak boleh menjadi pemicu perpecahan,” tegas Gubernur Bengkulu yang kesepuluh ini.

Dengan bersatu dalam keberagaman dapat mengatasi permasalahan sosial di tengah masyarakat. Karena menurutnya, konflik sosial juga merupakan suatu bencana yang harus dihindari.

“Jangan dibayangkan bencana alam itu hanya gunung meletus dan banjir saja, bencana sosial itu tidak kalah dahsyatnya,” pungkasnya.

Effendi MS, Ketua BMA Provinsi Bengkulu mengatakan, adat istiadat itu bertujuan untuk menjaga harmonisasi, ketertiban, keamanan dan keseimbangan yang ada di tengah masyarakat.

“Dengan multi etnis, suku agama dan budaya yang ada di Proivinsi Bengkulu ini diharapkan dapat diikat dalam suatu kepahaman, sehingga dapat bersatu dalam kebhinekaan,” kata Effendi.

Menurut Kapolda Bengkulu Irjen Pol Supratman, upaya dari tokoh-tokoh adat maupun pemerintah daerah di Provinsi Bengkulu sudah sangat baik dalam menjaga keberagaman etnis suku budaya dan agama untuk mencegah konflik, menjaga persatuan dengan jalan preventif.

“Kami (Polda Bengkulu) sangat terbantu sekali dengan peran tokoh adat dalam mencegah konflik harizontal, karena aparat kepolisian tidak akan mampu bekerja maksimal tanpa bantuan tokoh-tokoh adat dan tokoh masyarakat ini,” kata Kapolda Supratman, yang baru saja naik pangkat bintang dua ini.

Salah seorang Etnis masyarakat Hindu Bali yang ada di Provinsi Bengkulu, Ketut Sujana, sepakat atas pemikiran dari Gubernur Bengkulu, bahwasannya menjaga persatuan dalam keberagaman itu hal yang penting dan menjadi modal dalam membangun daerah ini.

Diakuinya, Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah merupakan sosok yang berfikiran universal. Fikiran universal gubernur tersebut dibuktikan dengan merangkul semua etnis, suku maupun agama yang ada di Provinsi Bengkulu untuk tetap menjaga persatuan diantara keberagaman yang ada.

“Gubernur Rohidin memiliki fikiran universal dan memiliki gagasan besar. Dengan gagasan besar tersebut tentu akan menghasilkan yang besar juga bagi kemajuan Bengkulu ini,” ungkap Ketut Sujana, yang juga menjabat Ketua Masyarakat Adat Provinsi Bengkulu ini.(rls/Mc)

Berita Lainnya

Tersedot Anggaran Pilkada, Rehab Kantor Gubernur Rp 12 Miliar dan Gedung Web Rp 50 Miliar Batal

BENGKULU–  Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Bengkulu dalam usulan di APBD 2020 ...

error: Content is protected !!