Minggu , 15 Desember 2019
Home / Metropolis / Laju Inflasi Perlu Diwaspadai

Laju Inflasi Perlu Diwaspadai

PEMAPARAN: Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi Bengkulu, Budi Hardiyono, S. Si, ME saat memberikan pemaparan dalam rilis, Senin (2/12), (foto: iksan/rb).

BENGKULU – Badan Pusat Statistik (BPS) Bengkulu mengingatkan, agar Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) mewaspadai laju inflasi tahun kalender 2019. Mengingat pada posisi November laju inflasi telah mencapai 2,31 persen. Jika kurang antisipasi diperkirakan laju inflasi akan lebih besar dibanding tahun 2018 yang hanya sebesar 2,35 persen.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi Bengkulu, Budi Hardiyono, S. Si, ME mengatakan, muncul perhitungan, untuk  menyamai llaju inflasi tahun kalender 2018, paling tidak pada Desember inflasi harus tertahan di angka 0,04 persen. Namun jika terjadi sebaliknya, otomatis laju tahun kalender inflasi akan membengkak melampui setahun lalu, saat TPID Bengkulu berhasil mendapat apresiasi terbaik untuk  wilayah Sumatera.

“Melihat bulan Desember akan ada Natal dan Tahun Baru (Nataru), diprediksi kerja TPID akan semakin berat,” jelas dia saat menggelar rilis bulanan BPS, Senin (2/12).

Ia mengingatkan, untuk  menekan tingginya inflasi, TPID harus bisa memastikan stok barang tersedia melimpah, termasuk distribusinya yang lebih lancar. Ketersediaan kebutuhan seperti telur, terigu, gula termasuk bahan-bahan membuat kue dipastikan harus aman. “Termasuk pula ketersediaan daging sapi maupun daging ayam,” ingatnya.

Faktor transportasi, terutama transportasi udara dan darat, agar lebih menjadi perhatian mengingat kedua moda ini cukup banyak dipergunakan masyarakat dalam menghadapi Natal serta tahun baru. Meski begitu, Budi menegaskan, posisi Desember ini kerja TPID bakal semakin berat, untuk  menekan laju inflasi yang diprediksi akan naik  dalam momen spesial Desember.

Sementara itu, dari rilis di ruang pertemuan BPS Provinsi Bengkulu terungkap, pada November Bengkulu justru mengalami deflasi sebesar 0,27 perssen. Penurunan  harga-harga barang seperti daging ayam ras, cabe merah, ikan kape-kape, seng, buncis, tomat sayur, ketimun, ikan dencis, kacang panjang, jengkol menjadi item pemicu terjadi deflasi. “Untuk deflasi tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar -1,41 persen,” paparmya.

Selanjutnya disusul kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar -0,11 persen. Kelompok sandang juga turut menyumbang andil deflasi sebesar -0, 04 persen. Deflasi yang sebesar 0, 27 persen di Bengkulu berhasil menempatkan provinsi yang kini sedang giat membangun ini di posisi ke-70 nasional dari 83 kota yang dpantau. Sedangkan untuk  di Pulau Sumatera, Bengkulu ada di urutan 16 dari 23 kota yang dipantau. (iks)

Berita Lainnya

Jamkesda Hanya Sanggup Akomodir 23 Ribu Warga

BENGKULU – Pemprov Bengkulu mengalokasikan dana bagi hasil dari pajak rokok sebesar Rp 12 miliar ...

error: Content is protected !!