Minggu , 26 Januari 2020
Home / Breaking News / PLTU Bengkulu Tidak Mencemari Lingkungan Kelurahan Teluk Sepang

PLTU Bengkulu Tidak Mencemari Lingkungan Kelurahan Teluk Sepang

PLTU Bengkulu 2×100 MW

BENGKULU- Adanya isu penolakan atas keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bengkulu 2×100 MW yang berlokasi di Teluk Sepang, tegas dibantah warga RT 14 Kelurahan Teluk Sepang. Dijumpai Rakyat Bengkulu, Kamis (5/12), Gimin mengaku masyarakat setempat tidak pernah mempermasalahkan kehadiran PLTU. Polusi debu yang ada selama ini bukanlah diakibatkan PLTU. Namun sejak lama sudah diakibatkan oleh batubara yang lokasi stockpile-nya memang di sekitar PLTU.

“Kami sebagai warga disini tidak pernah mengatakan ada namanya polusi yang katanya dari PLTU itu. Kalau persoalan debu batubara memang sudah ada sejak dulu, karena memang di sana areal batubara,” terang Gimin yang tinggal paling dekat dengan PLTU.

Menanggapi adanya kematian sejumlah penyu dan ikan di sekitar areal pembuangan air bahang milik PLTU, Gimin mengaku jauh sebelum berdirinya PLTU ia sudah sering menemukan penyu dan ikan yang mati di Pantai Teluk Sepang. Kematian tersebut kemungkinan disebabkan akibat aktivitas nelayan yang memasang jaring panjang di tengah laut. “Penyu dan ikan mati karena terkena jaring nelayan, setelah mati kemudian terdampar ke daratan, selain itu penyu juga bisa mati karena tidak bisa membalikkan tubuhnya akibat gelombang pantai yang tinggi,” ujar Gimin.

Ia menambahkan, jika penyu dan ikan mati akibat aktivitas PLTU, maka harusnya tidak hanya penyu dan ikan saja yang ditemukan disana. Lebih lagi ia mengaku, banyak ditemukan disana adalah ikan dengan ukuran yang tidak kecil tetapi besar.

Senada disampaikan Surahayati. Ia membantah jika pemberitaan kerap menyebutkan PLTU berdampak negatif bagi masyarakat. “Kami disini masih seperti dulu saja, tidak tahu kami kalau ada polusi atau apa karena PLTU, tidak ada,” ungkapnya.

Sebelumnya, ditemukan 4 ekor penyu mati di sekitar pembuang air bahang PLTU Bengkulu. Atas penemuan tersebut Dinas  Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK)  Provinsi Bengkulu melakukan uji laboratorium terhadap sampel limbah PLTU. Kamis (21/11) DLHK merilis air di saluran pembuangan limbah PLTU masih memenuhi baku mutu air dengan parameter ph  8,32, suhu air 35℃, dan Dhl 13,5 ms.

Informasi terhimpun Rakyat  Bengkulu, penemuan penyu mati tidak hanya terjadi di Pantai Teluk Sepang, namun pernah juga ditemukan di Tapak Paderi satu ekor, dan di Pantai Panjang satu ekor.

Ditempat terpisah, Lurah Teluk Sepang, Robert Zamora, SH mengakui memang ada 4 ekor penyu yang mati  di sekitar pembuangan air bahang PLTU. Namun atas penemuan tersebut sudah dilakukan pengecekan oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)   dan DLHK Provinsi. “Kalau yang dulu ya saya tahu dan sudah dilakukan pengecekan dari DLHK, kabar yang saya dengar tidak ada pencemaran berdasarkan hasil lab itu,” ungkapnya.

Robert juga membantah adanya aksi protes yang dilakukan warga. Menurutnya tidak seluruh masyarakat Teluk Sepang menolak kehadiran PLTU, namun hanya dilakukan oleh beberapa orang saja. “Kalau terkait dengan aksi kemaren-kemaren itu, hanya beberapa orang warga Teluk Sepang saja, tidak ada sampai ratusan itu, kalau yang sampai ratusan itu informasinya tidak benar,” tegas Robert.

Identifikasi Penyebab Kematian Penyu, BKSDA Tunggu Hasil Laboratorium

Sementara itu, hingga saat ini BKSDA Bengkulu masih melakukan uji laboratorium untuk mencari penyebab dari kematian 4 penyu yang ditemukan di sekitar pantai Teluk Sepang. Kepala BKSDA Bengkulu, Donal Hutasoit menerangkan bahwa hasil sampel yang telah diambil oleh tim autopsi telah dikirim ke laboratorium yang ada di Bogor.

“4 penyu yang mati sudah kita autopsi oleh tim dokter hewan yang kita miliki yaitu drh Erni Suyanti Musabine. Untuk mengetahui penyebab kematian penyu tersebut apakah ada kematian karena unsur kimia maka kita harus uji laboratorium, untuk sampel kita sudah kirim ke Bogor,” jelas Donal.

Dari hasil lab, kata Donal pihaknya baru dapat memastikan apa penyebab kematian penyu tersebut. “Tunggu hasil uji lab nanti, mereka akan menyatakan apakah kematian penyu tersebut karena zat-zat yang mengandung unsur kimia apa. Dan hasil itulah yang akan kita sampaikan ke publik dan dari kita secepatnya kita ingin hasil itu kita terima dari lab tersebut,” imbuh Donal.

Jika hasil kematian tesebut benar dikarenakan unsur kimia, lanjut Donal, pihaknya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. “Kita akan lakukan penyelidikan apakah unsur kimia tersebut benar berasal dari pabrik, apakah dari masyarakat atau berasal dari unsur lain,” tutup Donal.

Versi DPRD Tidak Ada Pencemaran di PLTU

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kota Bengkulu Indra Sukma turut memberi tanggapan terhadap kematian penyu yang ditemukan di kawasan PLTU Batubara Bengkulu tersebut.  Menurutnya tidak ada pencemaran di kawasan pembuangan air PLTU. Pasalnya ikan-ikan kecil masih ditemukan hidup di sekitar lokasi tersebut.

“Kalau dilihat kasat mata memang belum ditemukan penyebab sebenarnya apa, karena dari hasil Sidak Komisi II beberapa waktu lalu ke PLTU, masih banyak ikan-ikan kecil yg hidup di sekitar pembuangan air limbah tersebut ke laut. Tetapi untuk mengetahui masalah sebenarnya perlu tim yg ahli untuk melakukan investigasi lebih mendalam, apa penyebab sebenarnya penyu-penyu yang ditemukan mati selama ini disekitar kawasan tersebut,” ungkap Indra.

TLB Pastikan Lakukan Pengecekan Limbah Rutin

Manajemen PT. Tenaga Listrik Bengkulu (TLB) melalui HSE Engineer PT. TLB Zulhelmi Burhan  membantah tudingan jika PLTU menjadi penyebab kematian penyu. Pasalnya, TLB secara rutin melakukan pengecekan atas limbah yang dikeluarkan.  “Pengecekan kami lakukan rutin, dan tidak ada ditemukan adanya biota laut yang mati. Kemarin (Rabu,red) kami dapat informasi dari BKSDA jika mereka sudah mau menuju kesini katanya mereka dapat informasi ada penyu yang mati,” ungkap Zulhelmi, Kamis (13/12).

Pria berdarah Bengkulu Selatan mengajak media untuk berkeliling di seputaran pembuangan air bahang. Ia juga menunjukan jika di area tersebut masih ditemukan adanya ikan-ikan kecil yang dalam kondisi hidup.  “Jadi kalau untuk penyebab penyu yang mati kemarin, kami juga tidak tahu apa sebabnya, kita serahkan kepada pihak BKSDA untuk mengeceknya di lab,” sampai Zulhelmi.

Pihak perusahaan, kata Zulhemi berkeyakinan jika prosedur pengolah limbah PLTU Bengkulu 2×100 MW sudah dilaksanakan sesuai dengan aturan. Maka mereka menyakini jika tidak ada pencemaran lingkungan dari aktivitas PLTU tersebut. “Sebelumnya juga sudah dilakukan pengecekan baik secara internal dari kami maupun dari DLHK dan hasilnya tidak ada pencemaran,” tegasnya. (zie/cw5)

Berita Lainnya

Tak Perlu MOU Soal Pemkot Ambil Alih Pengelolaan Pantai Panjang oleh Pemda Kota, Cukup Pemprov Hibahkan Saja

BENGKULU– Kesiapan Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu mengambil ahli kembali pengelolaan wisata Pantai Panjang mendapat respon ...

error: Content is protected !!