Senin , 17 Februari 2020
Home / Borgol / Razia Panti Pijat, Satpol PP Amankan 9 Wanita, Senjata Tajam dan Alat Kontrasepsi

Razia Panti Pijat, Satpol PP Amankan 9 Wanita, Senjata Tajam dan Alat Kontrasepsi

DIAMANKAN : Sebanyak 9 orang pekerja panti pijat diamankan Satpol PP Kota Bengkulu, Selasa (14/1) malam. 

BENGKULU– Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bengkulu gelar razia panti pijat di kawasan jalan Bhayangkara, Kelurahan Sidomulyo, Kota Bengkulu, Selasa (14/1) malam. Razia dilakukan di empat warung lokasi panti pijat. Tepatnya di RT 23 RW 08 Kecamatan Gading Cempaka. Warung tersebut diindikasikan panti pijat plus-plus. Satpol PP mengamankan 9 wanita pekerja panti pijat.

Kepala Satpol PP Kota Bengkulu, Hermansyah mengatakan razia yang dilakukan merespon keluhan masyarakat,  terhadap panti pijat yang dianggap meresahkan.  “Berdasarkan laporan masyarakat yang sudah resah, sebelumnya sudah beberapa kali kita lakukan peringatan tetapi peringatan kita tidak diindahkan. Jadi kami bersama dan bekerjasama dengan masyarakat sesuai permintaan masyarakat untuk dilakukan penutupan terhadap tempat ini,” jelas Hermansyah.

Ditambahkan Hermansyah, pihaknya akan melakukan hal serupa terhadap panti pijat yang lain. “Dengan tetap melibatkan masyarakat di dalamnya,” tambah Hermansyah.

Ke 9 wanita yang diamankan selanjutnya dibawa ke Kantor Satpol PP untuk dilakukan pendataan. Selain itu juga diamankan beberapa senjata tajam serta alat kontrasepsi. Satpol PP juga akan memanggil pemilik panti pijat untuk dilakukan perjanjian agar tidak kembali membuka usaha serupa.

“Kita lihat nanti, apakah akan kita lakukan pembinaan atau kita berikan tindak pidana ringan (tipiring) karena tadi ada beberapa barang bukti yang kita amankan,” ungkap Hermansyah.

Sementara itu Ketua RT 23, Rusli mengatakan bahwa salah satu panti pijat yang berdiri di daerahnya sudah berlangsung cukup lama. Ini membuat warga resah.

“Sudah sekitar 4 tahunan, semenjak saya menjadi ketua RT mereka sempat meminta izin perpanjangan usaha panti pijat, tetapi tidak saya perpanjang karena sesuai keinginan walikota akan menghapus warung remang-remang,” kata Rusli.

Dijelaskan Rusli, masyarakat yang resah membuat surat pernyataan tanda tidak setuju adanya panti pijat di wilayah tersebut. “Jadi saya laporkan kepada Lurah, kemudian Lurah membuat pernyataan tidak setuju dari warga kemudian kami surati ke Satpol PP dan tembusan ke Kecamatan. Oleh Satpol PP sering kali diperingatkan tetapi mereka tak menggubris hingga sampai malam ini kami lakukan kegiatan seperti ini,” jelas Rusli.(cw5)

Berita Lainnya

Terkait Isu Dukung Incumbent, Agusrin : Hanya Komunikasi Silaturahmi Kekeluargaan

BENGKULU–  Ramai di media sosial, beredar informasi yang menyatakan  mantan Gubernur Bengkulu, Agusrin M Najamudin ...