Senin , 17 Februari 2020
Home / Berita utama / Proyek Jembatan Air Padang dan Kota Agung, Dideadline Hingga 19 Februari, Jika Tidak Tuntas Kontrak Diputus

Proyek Jembatan Air Padang dan Kota Agung, Dideadline Hingga 19 Februari, Jika Tidak Tuntas Kontrak Diputus

JEMBATAN: Material beton jembatan Desa Air Padang yang belum dipasang. (foto : shandy/rb)

ARGA MAKMUR – Proyek pembangunan jembatan Desa Air Padang dan Kota Agung, Kabupaten Bengkulu Utara terancam putus kontrak. Masa perpanjangan waktu 50 hari hanya menyisakan sebulan lagi hingga 19 Februari mendatang.

Sementara hingga kini progress pembangunan dinilai lamban hingga kurang dari 60 persen. PT. Adhitya Mulia Mitra Sejajar (AMMS) selaku pemenang tender dengan nilai kontrak Rp 28,5 miliar untuk membangun dua jembatan tersebut. Hingga kemarin, beberapa buruh pekerja mulai mengerjakan jembatan Air Padang yang menjadi sorotan. Namun tak terlihat aktivitas pekerjaan di jembatan Kota Agung. Kedua jembatan tersebut hanya terlihat material beton dan besi paku bumi yang belum terpasang.

Kepala Satker PJN Wilayah I Provinsi Bengkulu, Abdul Halim, ST, MT menuturkan jika mereka melihat perkembangan hingga waktu perpanjangan 50 hari selesai. Jika memang progres tidak sesuai yang diharapkan dan belum ada perkembangan berarti maka akan dilakukan pemutusan kontrak.

“Jika tidak ada progress berarti, kita stop kontrak. Kalau progressnya bagus, maka silakan jika perusahaan menginginkan perpanjangan kedua selama 40 hari,” tegasnya.

Ia mengakui proyek pergantian besi jembatan Bengkulu Utara – Bengkulu Tengah tersebut sudah mendapat teguran dari Satker karena progress pekerjaan yang tidak sesuai dengan harapan. Proyek ini juga sudah masuk pembayaran proyek rawan di Satker Kementerian PUPR Wilayah I Provinsi Bengkulu. “Kita sudah lakukan sesuai aturan, termasuk memberikan teguran terkait lambannya pekerjaan. Sehingga memang terus kita lakukan pemantauan,” terang Halim.

Perusahaan tersebut juga sudah diminta mempercepat pengerjaan proyek setelah masalah pembangunan proyek jembatan ini mencuat. Namun nyatanya dari dua jembatan, hanya satu yang kini nampak aktivitas pekerjaannya yaitu di Desa Air Padang. Sedangkan proyek yang sama di Desa Kota Agung terhenti.

Diketahui, PT. AMMS memang menjadi sorotan karena pekerjaanya tidak tuntas sesuai kontrak awal 31 Desember dan mendapatkan perpanjangan 50 hari. Namun diperkirakan pekerjaan masih kurang dari 50 persen. Selain itu, PT AMMS juga tercatat sebagai perusahaan yang beberapa kali terjerat masalah hukum. Setidaknya tiga pimpinan perusahaan pernah ditetapkan tersangka terkait pembangunan fisik proyek.

Tahun ini, tak hanya proyek dua jembatan di Bengkulu Utara senilai Rp 28,5 miliar yang terlambat, proyek rehab irigasi senilai Rp 17 miliar di Seluma juga informasinya belum tuntas.(qia)

Berita Lainnya

Terkait Isu Dukung Incumbent, Agusrin : Hanya Komunikasi Silaturahmi Kekeluargaan

BENGKULU–  Ramai di media sosial, beredar informasi yang menyatakan  mantan Gubernur Bengkulu, Agusrin M Najamudin ...