Senin , 17 Februari 2020
Home / Berita utama / Kasatker : Pekerjaan Jembatan di Bengkulu Utara Masuk dalam Rapat Satker sebagai Kontrak Rawan

Kasatker : Pekerjaan Jembatan di Bengkulu Utara Masuk dalam Rapat Satker sebagai Kontrak Rawan

KEJAR TARGET: Proyek jembatan di Desa Air Padang Kabupaten Bengkulu Utara dikejar waktu. (foto : shandy/rb)

ARGA MAKMUR– Pengerjaan dua jembatan Jalan Lintas Barat (Jalinbar) masing-masing Jembatan Kota Agung dan Jembatan Air Padang di Bengkulu Utara menjadi sorotan. Hingga kini pengerjaan proyek senilai Rp 28,5 miliar tersebut seperti jalan di tempat dan progres fisik diperkirakan masih kurang dari 60 persen. Setelah lewat batas kontrak pertama 31 Desember, perusahaan mendapatkan perpanjangan waktu 50 hari hingga 19 Februari mendatang. Sampai kini pengerjaan justru jalan di tempat dan sempat satu minggu tak ada aktifitas.

PT Adhitya Mulia Mitra Sejajar (AMMS) adalah pihak ketiga pemenang lelang yang mengerjakan mega proyek tersebut. Hasil penelusuran RB, perusahaan ini kerap tersandung masalah dalam mengerjakan proyek pemerintah sejak. Menariknya, meski tiga direkturnya pernah ditetapkan sebagai tersangka dan beberapa pekerjaan yang melewati batas waktu kontrak. Perusahaan ini tetap saja mendapatkan pekerjaan, bahkan dengan nilai puluhan milliar. Bahkan perusahaan yang sama juga mengerjakan proyek irigasi di Kabupaten Seluma dengan nilai Rp 17 miliar lebih dan kini juga masih dalam proses pengerjaan.

Hal ini juga ditunjukan dengan PT AMMS yang masih diberikan waktu tambahan 50 hari meskipun sejak awal Satker Kementerian PUPR Wilayah I provinsi Bengkulu sudah menyatakan pekerjaan pembangunan dinilai lamban. Bahkan Kasatker Abdul Halim, ST, MT mengakui jika dalam masa kontrak pertama pekerjaan jembatan di Bengkulu Utara masuk dalam rapat Satker sebagai kontrak rawan.  “Sejak awal memang lambat (Progres, red), aturan pemberian teguran sudah kita layangkan. Bahkan kita bahas di rapat sebagai salah satu kontrak yang rawan,” kata Halim.

Ia mengaku jika Satker mengakui jika perusahaan ini kerap bermasalah. Namun dalam lelang elektronik, ia berhasil memberikan penawaran kedua terendah dan perusahaan yang menawar pertama dinyatakan gagal kualifikasi lantaran tidak ada dokumen kontrak alat berat. “Karena memang dalam lelang elektronik siapapun pemenangnya yang kan mendapatkan pekerjaan,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan Pejabat Pembuat Komitment (PPK) pekerjaan proyek tersebut Mardi. Ia mengakui jika kontraktor tersebut kerap tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dalam kontrak normal, sehingga beberapa kali pekerjaan harus diberikan penamb ahan waktu dengan konsekwensi denda. “Perusahaan tidak masuk daftar hitam kita, hanya saja memang sering harus penambahan waktu,” kata Mardi.

Ia mengaku waswas dengan kondisi pengerjaan proyek jembatan tersebut lantaran progresnya lamban. Bahkan ia sudah menghubungi langsung kontraktor dan memastikan jika pekerjaan jembatan tersebut akan selesai tepat waktu penambahan habis.  “Saya waswas memang, karena saat ini proyek itu menjadi sorotan. Namun peruashaan tetap yakin mengerjakan dan akan selesai,” pungkas Mardi. RB kembali mencoba menghubungi pihak PT AMMS. Tapi belum direspon.  (qia)

Berita Lainnya

Terkait Isu Dukung Incumbent, Agusrin : Hanya Komunikasi Silaturahmi Kekeluargaan

BENGKULU–  Ramai di media sosial, beredar informasi yang menyatakan  mantan Gubernur Bengkulu, Agusrin M Najamudin ...