Sabtu , 29 Februari 2020
Home / Breaking News / Soal Hasil Investigasi Kematian Penyu, Prodi Kelautan Unib  Siap Mengawal Validitas dan Objektivitas Data

Soal Hasil Investigasi Kematian Penyu, Prodi Kelautan Unib  Siap Mengawal Validitas dan Objektivitas Data

PT. Tenaga Listrik Bengkulu

BENGKULU- PT Tenaga Listrik Bengkulu (TLB) sebagai pemilik Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bengkulu mengungkapkan apresiasi sebesar-besarnya atas kerja keras, independensi dan profesionalisme dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bengkulu dan Polisi Air (Polair) Polda Bengkulu dalam pengungkapan misteri kematian penyu yang terjadi di perairan Bengkulu sejak April 2019 lalu.

Dalam siaran pers yang disampaikan pada Jumat, 31 Januari 2020, menyimpulkan bahwa kematian penyu bukan diakibatkan limbah PLTU. Dengan keluarnya hasil investigasi tersebut, TLB mengajak masyarakat untuk menghormati dan bersama-sama berkontribusi dalam melestarikan sekaligus menjaga lingkungan laut Bengkulu. Ini diungkapkan Direktur TLB Willy Cahya.

“TLB sangat menyayangkan adanya kejadian kematian penyu-penyu di perairan Bengkulu. Oleh karena itu, sejak awal TLB selalu mendukung upaya instansi yang berwenang untuk melakukan pemeriksaan terhadap kematian penyu secara tuntas dengan selalu terbuka dan kooperatif terhadap seluruh proses pemeriksaan. Selain itu, saat ini TLB juga melakukan langkah nyata dalam upaya penyelamatan salah satu ikon satwa Bengkulu tersebut melalui program-program pelestarian ekosistem pantai dan rencana penangkaran penyu serta replantasi terumbu karang di Teluk Sepang,” kata Willy Cahya.

Tanggapan serupa juga pernah dipaparkan oleh Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu.  Melalui ketuanya Ir., Zamdial, M.Si., mengungkapkan bahwa ada banyak faktor yang dapat dilihat dari fenomena kematiannya penyu tersebut.

“Saya memberikan beberapa hipotesis dari kematian penyu di sana. Pertama adalah karena sampah yang tertelan oleh penyu. Kedua adalah karena luka yang disebabkan jaring nelayan. Ketiga adalah adanya kepentingan-kepentingan tertentu yang sampai mengorbankan nyawa penyu tersebut. Keempat adalah kualitas air di sana, misalnya suhu, zat berbahaya, dan lainnya. Kelima adalah penyu tersebut memang sakit. Terakhir, penyu-penyu yang mati tersebut sebagian besar “terdampar” di pantai Teluk Sepang yang kaitannya erat dengan fenomena alam Indian Ocean Dipole (IOD). Fenomena ini memicu ledakan populasi plankton (plankton blooming) sehingga terjadi red tide yang membahayakan biota-biota laut, yang mana pada kenyataannya, fenomena yang sama juga terjadi di beberapa tempat di Pantai Selatan Jawa, Pantai Barat Sumatera (termasuk kejadian yang sama di Kabupaten Kaur), yang merupakan bagian dari Samudera Hindia,” ujarnya.

Zamdial menambahkan, “Dengan adanya hasil resmi dari dinas dan lembaga pemerintah tersebut, kami melihat hasil-hasil investigasinya sudah menjawab hal itu. Kami sebagai pihak independen bersedia mengawal validitas dan objektivitas data dan penelitian jika dibutuhkan” tutupnya

Sebelumnya berdasarkan hasil investigasi yang telah dipublikasikan, BKSDA Bengkulu menyatakan bahwa terkait uji laboratorium telah dilakukan pihaknya di Lab Balai Besar Kementerian Pertanian Veteriner Bogor, hasil penegakan diagnosis laboratorium adalah infeksi bakterial suspect Salmonellosis dan Clostridiosis. Selain itu, toxicologi perut penyu masih dalam ambang batas dan tidak menunjukkan nilai yang mempengaruhi mortalitas penyu.

DLHK Provinsi Bengkulu menyatakan atas pengambilan sampel air di sepuluh titik pada sepanjang Pantai Kota Bengkulu menunjukkan hasil Uji Kualitas Air Laut memenuhi baku mutu air laut sesuai dengan Permen LH Nomor 51 Tahun 2004. Sementara BMKG Provinsi Bengkulu sendiri menemukan terjadi Suhu Muka Laut dengan penyimpangan (Anomali) dingin di perairan sebelah barat Bengkulu antara bulan September hingga awal Desember (kurang dari normalnya sebesar 0,5o – 3o C) dan mulai menghangat pada pertengahan Desember hingga sekarang.

Sementara Polair Polda Bengkulu mengungkapkan dari hasil laboratorium belum menunjukan adanya penyebab kematian penyu yang dilakukan oleh faktor manusia. (rls)

 

 

Berita Lainnya

Genjot Pembayaran Non Tunai, BI Gelar Pekan QRIS Nasional

BENGKULU – Bank Indonesia (BI) gencar mensosialisaikan pembayaran non tunai di Provinsi Bengkulu. Khususnya dikalangan …